Tuesday, 10 October 2017

Sekilas Buku Fatwa & Resolusi Jihad

                      Keresahan Oktober sampai lahir BPRI Pimpinan Bung Tomo

        Memasuki pekan kedua bulan Oktober 1945, kecurigaan para pemimpin KNID, BKR, badan perjuangan, dan pemuka pergerakan terhadap RAPWI semakin meningkat. Residen Soedirman sendiri yakin bahwa wakil-wakil Sekutu di kota Surabaya, yang sebagian besar orang Belanda, tidak bisa dipercaya. Para pimpinan PRI pun mendapati bahwa Pastoors, salah seorang anggota Komite RAPWI, pernah menjadi residen dalam sistem pemerintahan kolonial sebelum perang. Mereka kemudian menekan P.G. de Back untuk menyingkirkan Pastoors dari Komite RAPWI. 
          Residen Soedirman berani menuduh RAPWI sebagai pendahulu NICA karena tanggal 10 – 11 Oktober 1945,  ketika PRI menggeledah kantor RAPWI dan perumahan Eropa,  tersiar kabar bahwa ditemukan banyak bukti yang mencurigakan seperti rencana serangan, perangkat radio, peta sistem komunikasi, instruksi dari pemerintah NICA di Australia, dan sejumlah besar mata uang Jepang. Benda-benda itu menambah kecurigaan bahwa serangan Belanda terhadap wilayah Indonesia tinggal mmenunggu waktu  saja. Demikianlah, kecurigaan dan bahkan tuduhan bahwa RAPWI adalah pendahulu NICA semakin kuat, karena pengalaman menunjuk bahwa semenjak kabar kedatangan pasukan AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) ke Indonesia yang didahului datangnya kelompok penghubung pimpinan Mayor Geenhalgh yang tiba di Jakarta 8 September 1945 yang mempersiapkan markas AFNEI di Jakarta, terbukti diboncengi Belanda, karena seiring merapatnya kapal perang Inggris HMS Cumberland di bawah pimpinan Laksamana Muda Peterson pada 29 September 1945, merapat pula kapal perang Belanda Tromp. Begitulah, bersama rombongan AFNEI telah turun ke ibukota aparat NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang diam-diam mempersenjatai bekas KNIL yang baru lepas dari tawanan Jepang.

                Dengan ditemukannya dokumen RAPWI, para pimpinan Jawa Timur semakin yakin bahwa kasus RAPWI  pada dasarnya adalah  pengulangan saja dari kasus kedatangan AFNEI di Jakarta yang diboncengi NICA. Tidak tahu darimana asalnya, di tengah memanasnya tudingan bahwa RAPWI adalah bagian dari NICA,  menyebar kabar yang menyatakan bahwa para kolaborator Jepang seperti PETA dan Heiho akan ditangkap segera setelah pasukan Sekutu mendarat di Surabaya. Pada sisi lain,  tersebar pula kabar bahwa Pasukan Sekutu akan mendarat di Surabaya tanggal 14 Oktober 1945. Suasana di Jawa Timur, terutama Surabaya pun memanas. Para anggota TKR dan BKR  bekas PETA dan Heiho, bahkan anggota Hisboellah, Seinendan, Jibakutai saling berbicara satu sama lain tentang tindakan apa yang harus mereka lakukan jika kabar penangkapan mereka oleh Sekutu itu menjadi kenyataan.
              Suasana pun makin memanas. Para kyai bekas PETA yang sudah bergabung dengan TKR, BKR, maupun Laskar  Hisboellah membawa kabar tersebut kepada  para kyai sepuh, terutama kepada KH Hasjim Asj’ari, pendiri Nahdlatul Oelama, yang puteranya, Kyai Cholik Hasjim, adalah perwira PETA, begitu juga sejumlah bekas komandan Daidan PETA yang  adalah santri Tebuireng. Di tengah simpang-siur kabar seputar mendaratnya pasukan Sekutu yang akan menangkap para kolaborator Jepang, tersebar berita yang tidak kalah mencekam di mana bukan hanya bekas PETA dan Heiho yang akan ditangkap Sekutu, bahkan Soekarno dan Moch Hatta yang terbukti mendukung pemerintah pendudukan Jepang pun akan ditangkap Sekutu. 
            Saat itu, tersebar pula kabar bahwa Presiden Soekarno telah mengirim utusan ke Pesantren Tebuireng menghadap KH Hasjim Asj’ari untuk meminta fatwa tentang hukum umat Islam membela tanah airnya dari serangan musuh. Kabar tentang utusan Presiden Soekarno yang meminta fatwa itu dimaknai sebagai sikap ksatria Soekarno yang tidak akan membiarkan dirinya ditangkap Sekutu untuk dijadikan pesakitan berstatus penjahat perang. Sikap itu sejalan dengan tekad para pimpinan TKR, BKR, Hisboellah, PRI yang berasal dari bekas perwira PETA dan anggota Heiho, yang akan melawan sampai mati jika pasukan Sekutu menangkap mereka
              Yang tidak terduga, anggota PRI dengan menggunakan truk-truk diam-diam mengangkuti orang-orang Belanda dan Indo laki-laki dan remaja lelaki ke atas truk untuk diangkut ke Penjara Kalisosok (Werfsraat) dan sejumlah tempat lain. Pemandangan orang-orang Indonesia bersenjata menutup rapat-rapat jalanan di daerah Eropa yang kaya, serta memuati truk mereka dengan orang-orang kulit putih yang ketakutan dan tanpa daya di sepanjang jalan raya utama menuju  ke penjara, memicu reaksi spontan dan keras dari penduduk kampung yang sedang menyala-nyala. Berbondong-bondong orang mengalir dari kampung-kampung di tengah kota , berteriak,”Bunuh anjing-anjing NICA” dan “Belanda Kotor!” saat massa mengikuti mobil-mobil itu ke tujuan mereka. 

          Menjelang kedatangan kelompok tawanan pertama di Penjara Kalisosok, segerombolan arek-arek Surabaya telah mulai berkerumun sambil menyanyi-nyanyi. Mereka membawa bambu runcing, pisau, dan kadang senjata api, dan berteriak haus darah. Ketika truk yang membawa sekelompok orang dan anak laki-laki Belanda dibawa ke depan pintu gerbang, segerombolan  besar orang mengancam akan menyerang truk itu jika pihak PRI tidak menyerahkan tawanan kulit putih itu kepada mereka. Akhirnya, dalam tugas penyelamatan itu, anggota PRI memaksa tawanan mereka untuk lari melalui lorong orang, yang terbuka dengan senjata di kanan kiri, antara truk dan pintu penjara, dengan jarak sekitar 45 meter. Karena terkepung beratus-ratus orang yang beringas menyerang, hampir semua tawanan terbunuh atau terluka parah sampai perwira PRI dan beberapa orang anggota TKR yang datang dapat  mengendalikan situasi
              Tindakan PRI menyelamatkan orang-orang Belanda dan Indo ke tempat yang aman, yaitu ke Penjara Kalisosok dan tempat-tempat lain seperti penjara Bubutan dan penjara militer Koblen sampai datangnya Sekutu, menuai tidak saja kecaman, tetapi juga ketidak-percayaan bahkan tuduhan bekerja sama dengan NICA. Pasalnya, sebagian tokoh pemuda – terutama pemuda seperti Soetomo yang merupakan tokoh PRI – mengetahui bahwa bagian terbesar pemimpin PRI adalah kader-kader didikan Amir Sjarifuddin yang semasa pendudukan Jepang melakukan gerakan perlawanan bawah tanah dengan didanai pemerintah Belanda dalam pengungsian. Itu sebab, tanggal 12 Oktober 1945, Soetomo beserta beberapa orang kawannya, yang sebagian adalah anggota PRI, membentuk Barisan Pemberontakan Rakjat Indonesia disingkat BPRI, dengan tujuan memangkas  pengaruh PRI yang dicurigai bermain-mata dengan pihak Belanda. 
               Kecurigaan Soetomo terbukti, tanggal  15 Oktober 1945 sekitar 3500 orang Belanda dan Indo Belanda yang sudah dilepas dari interniran Jepang,  diam-diam  oleh PRI dinaikkan truk-truk dan dibawa ke penjara Kalisosok (werfstraat) untuk ditahan serta ditempatkan di sejumlah tempat yang aman. Sebagian truk yang membawa para tawanan itu dihadang massa rakyat di depan Simpang Club, di markas PRI. Tidak mampu berbuat apa-apa menghadapi amuk massa, anggota PRI hanya berdiri tertegun menyaksikan  para tawanan Belanda dan Indo itu  dihakimi massa secara brutal bahkan sejumlah anggota PRI yang membawa tawanan itu mengalami luka-luka (agus sunyoto).






         

No comments:

Post a Comment