Search

Loading...

Sunday, 23 June 2013

Kentrung - seni Mendongeng Dalam Dakwah Islam

 Oleh: Kemuning Lindra P.*)
           Kentrung adalah sebuah kesenian yang menyebar di Indonesia terutama di pantai utara Jawa. Kesenian ini berkembang pesat di wilayah Semarang, Pati, Jepara, hingga Tuban di Jawa Timur. Kentrung dikenal juga dengan nama Kentrung Bate. Dinamakan kentrung Bate karena berasal dari desa Bate, kecamatan Bangilan, kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kentrung Bate pertama kali dipopulerkan oleh Kyai Basiman di era zaman penjajahan Belanda tahun 1930-an.
           Kata kentrung sendiri berasal dari kata Ngre’ken dan Ngantung. Ngre’ken berarti menghitung, sedangkan Ngantung berarti berangan-angan. Kedua kata tersebut digabungkan menjadi satu padan kata yang baru yaitu Kentrung. Maksud dari perpadanan kata tersebut adalah mengatur jalannya suatu peristiwa dengan berangan-angan. Ada juga beberapa orang yang mengatakan kentrung berasal dari kata Kluntrang-kluntrung yang artinya pergi dan mengembara kesana kemari. Pemaknaan yang terakhir ini lebih masuk akal, di mana seni kentrung sejatinya berkaitan dengan seni mendongeng kuno yang disebut Pamancangah. Sampai akhir Majapahit para tukang dongeng yang berkeliling menjual jasa mendongeng yang disebut Pamancangah Menmen atau Pamancangah Hamen yang bermakna tukang dongeng keliling yang sama maknanya dengan kluntrang-kluntrung.
             Seni tradisional kentrung atau biasa dikenal dengan Pakem Kentrung yang menggunakan kisah-kisah Timur Tengah dianggap berasal dari tradisi mendongeng dari Arab, Persia, dan India. Masuknya seni tradisional kentrung ini dibawa oleh wali songo sebagai media dakwah penyebaran agama Islam di Indonesia. Salah satu pembawa seni tradisional kentrung adalah Sunan Kalijogo. Beliau menyebarkan kesenian ini di wilayah Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Jombang, Tuban hingga menyebar di seluruh pesisir utara Pulau Jawa. Pada awalnya, seni tradisional mendongeng  hanya di pentaskan di acara-acara penting kerajaan saja. Namun, karena Islam tidak mengenal kasta dan perbedaan antar sesame manusia, akhirnya masyarakat awampun bisa menikmati pementasan kentrung secara bebas dan terbuka.

Pertunjukan Kentrung
          Kentrung merupakan kesenian tradisional sastra lisan yang mewujudkan sarana komunikasi rakyat melalui simbol-simbol. Komunikasi yang disampaikan merupakan ungkapan melalui kritik dan pesan moral yang dikemas halus dengan bahasa kentrung. Simbol digambarkan lewat penokohan dan kehidupan masyarakat. Selain itu, juga tentang politik, ekonomi, idiologi, sosial, budaya dan keamanan.
          Pertunjukan Kentrung dimainkan oleh dalang dan panjak yang mendongeng tanpa menggu¬nakan wayang. Musik yang mengiringi kendang dan tamburin serta instrumen lain se¬perti jidor, terbang, templeng dan gong. Seni tutur yang sering tampil “lesehan” tersebut digunakan sebagai media penyambung lingkar sejarah rakyat khususnya Islam yang berkem¬bang di Jawa. Kesederhanaan tampilan dengan menggunakan baha-sa Indonesia dan dialek da¬erah yang mudah dimengerti sehingga ceritanya mudah diterima masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah. Sepanjang pementasanya Kentrung hanya diisi oleh seorang dalang yang merangkap sebagai penabuh gendang dan ditemani oleh penyenggak. Personel memegang instrumen jidor, ketipung/kempling/timplung, dan kendang.
          Pada jama dahulu, pemain kentrung hanya duduk mendengarkan ki dalang bercerita dan terkadang pemain lainnya “nembang”, “parikan”, dan berpantun. Dalam perkembangannya pemain kentrung sudah bisa berekspresi memerankan tokoh seperti pemain ludruk dan kesenian ketoprak.
         Kentrung saat ini banyak dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya di daerah pesisir timur selatan. Selain itu, juga terdapat di sentra daerah, misalnya Surabaya, Jember, Pasuruan, Bojonegoro, Lamongan,Kediri,  Nganjuk, dan Jombang.
               Pada jaman sekarang, kentrung sering dimanfaatkan masyarakat dalam hajatan dan pesta. Misalnya khitanan, perkawinan, tingkepan, boyongan rumah, ataupun ulang tahun istansi. Tetapi dalam perkembangannya kentrung bisa untuk dialok interaktif dalam seminar di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah tertentu. Kentrung juga sering di-gunakan acara yang bernu¬ansa religius dengan cerita tentang Nabi Muhammad, Nabi Musa, dan Nabi Yusuf, zaman Walisongo dan Mataram Islam (Babad Tanah Jawa). Kisah lainnya tentang Syeh Subakir, Ahmad Muhamad, Kiai Dullah, Amir Magang, Sabar-subur, Marmaya Marmadi Ngentrung, Ajisoko, dan cerita panji. Selain cerita-cerita di atas, kentrung juga bisa berisi mengenai nilai-nilai tasawuf dengan mengupas berbagai topik seperti purwaning dumadi, keutaman, kasampurnan urip, dan sangkan paraning dumadi. Beberapa lakon yang tak ketinggalan juga biasa dimainkan dalam pementasan kentrung adalah Amat Muhammad, Anglingdharma, Joharmanik, Juharsah, Mursodo Maling, Jaka Tarub, dan Jalak Mas.
 

Pengatur
      Kentrung mempunyai beberapa unsur yang setiap pertunjukan yaitu:
1.Dalang, adalah pemba¬wa cerita yang sekaligus menjadi pengatur jalan ce-rita. Dalang Kentrung hampir sama dengan dalang wa¬yang, kesamaan tersebut dalam hal mengubah karak¬ter suara sesuai dengan la¬kon yang sedang berdialog.
2.Cerita, merupakan un¬sur kedua dalam pertunjukan kentrung. Cerita yang biasa diangkat oleh dalang adalah cerita kerajaan, legenda, Wali, Nabi, dsb.
3.Instrumen pengiring merupakan hal yang penting dalam membawakan sebuah cerita, karena dengan Instrumen masyarakat tertarik mendengarkan cerita.
        Instrumen-instrumen pokok dalam pertunjukan Kentrung, antara lain:
1.Kendhang Kentrung, adalah sebuah alat yang berfungsi sebagai pamurba ira¬ma dan sebagai variasi lagu atau dengan kata lain bertu¬gas mengatur irama dan ja¬lannya sajian. Kendhang se¬cara ukuran berbeda dengan kendhang Jawa, kendhang Kentrung biasanya berukur¬an lebih panjang, Seringkah Dalang berperan ganda de¬ngan memainkan kendhang.
2.Terbang/Kempling/Rebana (frome drum), alat pe¬mukul yang lahir dari Jawa Te¬ngah ini dari kayu berbentuk bulat dan dibalut dengan kulit kambing, berfungsi sebagai variasi instrumen lagu.
3.Bonang, tidak semua dalang kentrung menggunakannya, alat yang dibuat dari perunggu/kuningan/besi merupakan salah satu pelengkap alat instrumen gamelan Jawa. Fungsi aslinya adalah pamur¬ba lagu (pembuka jalannya sajian) pada beberapa gendhing, bonang digunakan se¬bagai penghias lagu dalam pertunjukan Kentrung.
4.Panjak, adalah penabuh instrumen dalam pertunjukan Kentrung. Selain yang telah disebutkan sebelumnya, di dalam pertunjukan Kentrung juga terdapat parikan. Parikan adalah sejenis pantun yang dilagukan atau dinyanyikan oleh dalang beserta panjaknya dengan iringan musik sederhana. Parikan juga memuat pesan-pesan moral terhadap masyarakat, Parikan juga memiliki kategori yaitu bagus, cacat dan jelek.
       Contoh parikan Kentrung kategori bagus:
Tuku karet dhuwite ilang
Tak baleni sandhale keri
Yen kepepet aja sumelang
Wis disedhiyani kantor koperasi

(Beli karet uangnya hilang Ketika kuambil sandalku tertinggal  Kalau terdesak janganlah bimbang Sebab sudah disediakan kantor koprasi) (Hutomo, 1993:49).
Contoh parikan kategori cacat:
Kembang terong abang
biru moblong-moblong,
sak iki wis Bebas ngomong,
tapi ojo clemang-clemong

(bunga terong berwarna merah biru mencorong, sekarang ini sudah bebas berbicara, tetapi jangan celometan).
Ijo ijo lak ijo ijo
Ijo-ijo godonge sawi
Paling enak duwe bojo
Lek bengi onok sing mijeti

(Hijau-hijau daunnya sawi, paling enak punya istri bila malam ada yang mijiti)
 

Banyolan
      Kentrung juga memiliki ciri banyolan, berguna untuk mengatasi rasa bosan pe¬nonton. Bentuk banyolan ini bisa berupa sindiran atau kritikan tidak langsung sehingga menjadi lucu ataupun berupa kata erotis yang agak berbau porno.

Cara Pelestarian Seni Tradisional Kentrung Agar Tidak Punah
           Kentrung mencapai masa keemasan pada tahun 1970-1980 an. Selama hampir dua dasawarsa itu, hamper seluruh masyarakat yang berpesta mengundang kelompok-kelompok kentrung yang ada di wilayah mereka. Seni kentrungpun mengalami perkembangan. Dari awal pementasan hingga mencapai puncak, penontonpun mulai bosan dan menganggao oementasan kentrung itu monoton, hanya begitu-begitu saja. Akhirnya, masyarakatpun menyarankan kepada dalang untuk melakukan penambahan beberapa unsur pada setiap pementasan. Seperti, ditambahnya instrument kendang, menambahkan beberapa unsur cerita wayang maupun ketoprak.
            Namun, amat disayangkan, pada tahun 1990-an, saat televisi mulai memasuki pasar Indonesia dan layar tancap mulai menawarkan alternatif hiburan yang praktis, kentrungpun mulai di tinggalkan oleh para penggemarnya.kesenian tradisional kentrung mulai terseok-seok seakan hidup segan matipun tak mau.
Selain karena peralatan elektronik yang semakin modern, faktor yang mebuat semakin hilangnya seni tradisional kentrung di Indonesia adalah tidak adanya penerus yang mengajarkan kesenian kentrung kepada generasi muda. Berdasarkan pernyataan yang didapat dari situs forum budaya Kesenian Kentrung dianggap terancam punah karena gagal melakukan regenerasi. Sejumlah orang yang masih mampu memainkan kesenian ini dan kebanyakan sudah lanjut usia.
          Untuk menanggulangi agar kesenian ini tidak punah ada beberapa hal yang sepatutnya kita lakukan, yaitu:
1.Mengajarkan kesenian-kesenian tradisional Indonesia yang hamper punah kepada generasi muda. Bukan hanya sekedar mengajarkan kemudian dilupakan, tetapi di ajarkan dan dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Di ajrkan secara mendetail agar para generasi muda tidak merasa ragu untuk mencintai budaya mereka sendiri
2.Jangan hanya mengandalkan pemerintah untuk menanggulangi masalah di negeri ini, tetapi kita sebagai generasi penerus harus mengerahkan tenaga untuk menbantu menyelesaikan masalah, terutama masalah kebudayaan Indonesia. Mendoktrin generasi muda untuk mencintai budaya sendiri sangatlah penting. Memberikan seminar-seminar, pameran budaya, ataupun pertunjukan secara sederhana adalah salah satu cara untuk memperkenalkan seluruh budaya nusantara.
3.Memberikan pendidikan primer kepada anak bahwa budaya asli Indonesia harus dicintai sepenuh hati adalah cara yang paling akurat. Saat anak mendapatkan pengajaran tentang pentingnya budaya asli Indonesia, maka saat dewasa pun dia akan tetap mencintai budayanya, bahkan cenderung mengajarkannya kepada generasi berikutnya.


*)Kemuning Lindra P, mahasiswi program sttudi Bahasa dan sastra Cina FIB Universitas Brawijaya

No comments:

Post a Comment