Search

Loading...

Wednesday, 7 November 2012

Imam Ibnu Jarir at-Tabari

 Oleh: Rae Shella Tivani Mareta
        Ibnu Jarir at-Tabari adalah seorang ahli tafsir terkenal dan sejarawan terkemuka.Nama lengkap at-Tabari adalah Abu Ja’far Muhammad Ibnu Ja’far Ibnu Yazid Ibnu Kas|ir. Ibnu Ghalib at-Tabari (selanjutnya disebut dengan at-Tabari). Ia di lahirkan di Amul ibu kota Tabaristan, kota ini merupakan salah satu propinsi di Persia dan terletak di sebelah utara gunung Alburz, selatan laut Qazwin. Pada tahun 224/225H atau sekitar tahun 839-840. Ketidakpastian tahun kelahirannya disebabkan sistem penanggalan tradisional saat itu menggunakan kejadian-kejadian besar dan bukan dengan angka. Ia memperoleh gelar Abu Ja’far sebagai tanda penghormatan atas kepribadiannya yang sesuai dengan tradisi orang-orang yang menggelari para pemuka dan para pemimpin mereka. Sedangkan kata Ja’far merupakan sebutan bagi sungai yang besar dan luas.
    At-Thabari hidup pada masa Islam berada dalam kemajuan dan kesuksesan dalam bidang pemikiran. Iklim seperti ini secara ilmiyah mendorongnya mencintai ilmu semenjak kecil. at-Tabari juga hidup dan berkembang dilingkungan keluarga yang memberikan perhatian besar terhadap masalah pendidikan terutama bidang keagamaan. Mengkaji dan menghafal al-Qur’an merupakan tradisi yang selalu ditanamkan dengan subur pada anak keturunan mereka termasuk at-Tabari.
    Berkat motivasi dan pengarahan (terutama) dari ayahnya serta berbekal kecerdasan yang tinggi, pada usia tujuh tahun, at-Tabari muda sudah hafal al-Qur’an dan menjadi imam shalat serta menulis hadis saat umurnya belum genap sembilan tahun. Isyarat akan kebesaran at-Tabari sebenarnya telah dirasakan oleh ayahnya. Suatu ketika ayahnya bermimpi bahwa Rasulullah menghampiri at-Tabari seraya memegang tangannya dan memberikan segenggam batu-batuan padanya, kemudian mimpi tersebut dita’birkan orang-orang bijak sebagai pertanda kesuksesan at-Tabari dikemudian hari.
    Abu Ja’far at-Tabari (sebutan Abu Ja’far bukanlah penisbatan, sebagaimana budaya Arab tatkala menyebut nama seorang ayah dengan “Abu Fulan”. Abu Ja’far adalah panggilan kehormatan bagi at-Tabari karena kebesaran dan kemuliaannya. Ia tidak pernah mempunyai anak dan tidak pula menikahi seorang wanita, demikian sebagai cerminan dari sikapnya yang tidak ingin terjebak dalam kesenangan dunia). Tumbuh sebagai seorang yang berakhlak mulia, memiliki integritas tinggi, zuhud, wara’, dan lebih mementingkan pemenuhan aspek spiritual dibanding material. Sepanjang hidupnya juga hanya dicurahkan untuk beribadah dan menuntut ilmu.
    Seperti kebiasaan ulama’-ulama’ lain pada waktu itu, at-Tabari dalam menuntut ilmu pengetahuan mengadakan beberapa perjalanan ke berbagai daerah Islam. Di samping itu, letak pusat ilmu yang dipadati ulama’ berada jauh dari tempat tinggalnya, akhirnya setelah menempuh pendidikan di kota asalnya kemudian ia mengadakan perjalanan ilmiah ke berbagai wilayah negara Islam.Kota pertama kali yang ditujunya adalah Ray, Iran, dan sekitarnya. Di sana ia mempelajari hadis dari Muhammad Ibnu Humaid al-Razi al-Musanna Ibnu Ibrahim al-Ibili. Dari daerah ini pula, ia berkesempatan belajar sejarah dari Muhammad Ibnu Ahmad ibnu Hammad al-Daulabi. Dan belajar fiqh dari Abi Muqatil. Selanjutnya, ia menuju Bagdad untuk belajar kepada Ahmad bin Hanbal, tapi ketika ia sampai ke sana, Ahmad bin Hanbal sudah wafat (w. 855). Maka ia mengalihkan perjalanannya ke Basrah, akan tetapi, sebelumnya mampir dulu ke washit untuk mendengarkan beberapa kuliah. Kemudian ia pergi ke Kufah. Di kota ini ia mengambil qira’at dari Sulaiman al-Tulhi dan hadits dari sekelompok jama’ah yang diperoleh dari Ibrahim Abu Kuraib Muhammad Ibnu al-A’la al-Hamdani, salah seorang ulama’ besar hadis|. Ia mendengar hadis dari Abu Kuraib lebih dari seratus ribu hadis.
    At-Tabari terkenal sebagai seorang yang rendah hati dan pemberani dalam mengemukakan sesuatu yang diyakininya. Beliau juga seorang ‘alim, oleh karena itu masyarakat sekelilingnya selalu memberinya hadiah, akan tetapi selalu ditolak, kecuali jika ia tahu bahwa ia sanggup memberikan imbalan yang setimpal dengannya.Di setiap tempat yang ia kunjungi selalu menjumpai ulama’-ulama’ besar dan mengambil ilmu dari mereka. tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu tertentu saja, akan tetapi, beberapa disiplin ilmu lain telah ia pelajari dan kuasai.
 
Masa Belajar, Guru-guru dan Murid-muridnya
    Beliau banyak bersafar dan berguru dengan ahli sejarah, beliau juga salah seorang yang memiliki ilmu banyak, dan cerdas, banyak karangannya dan belum ada yang menyamainya. Banyak kota-kota yang ia singgahi sampai ia tidak puas dengan hanya memasukinya sekali, ia masuk ke kota tersebut beberapa kali untuk memuaskan hasrat keilmuannya, di antara kota-kota tersebut adalah Baghdad, di kota ini ia mengambil mazhab Syafi’iyyah dari Hasan Za’farani, kemudian Bashrah, di kota ini ia belajar hadits kepada Abu Abdullah as-Shan’ani, lalu di Kufah, di sana ia belajar ilmu puisi kepada Tsa’lab dan masih banyak lagi kota lainnya seperti Mesir, Beirut dan Damaskus. Pada akhirnya Imam Thabari sempat pulang ke tanah kelahirannya di Thaburstan pada tahun 290 H, tapi tak lama kemudian kembali ke Baghdad dan menjadikannya tempat persinggahan terakhir untuk mencurahkan seluruih aktifitas ilmiyahnya hingga beliau wafat.
    Guru beliau 40 orang lebih, diantaranya: “Muhammad bin Abdul Malik in Abi Asy Syawarib, Ismail bin Musa As Suddi, Ishaq bin Abi Isroil, Muhammad bin Abi Ma’sar, Muhammad bin Au fat-Tha’i, Musa bin Sahal ar-Ramali, Muhammad bin Abdullah dan yang lainnya. (didalam tafsir beliau didapatkan, bahwa guru beliau berjumlah 62 guru). Imam al-Nawawi menambahkan sejumlah nama guru at-Thabari lainnya, terutama mereka yang juga menjadi guru al-Bukhari dan Muslim dalam bidang hadits, seperti Abd al-Malik ibn Abu al-Syawarib, Ahmad ibn Mani` al-Baghawi, al-Walid ibn Syuja`, Abu Kuraib Muhammad ibn al-`Ala’, Ya`qub ibn Ibrahim al-Dauraqi, Abu Sa`id al-Asyaj, `Amr ibn Ali, Muhmmad ibn al-Mutsanna dan Muhammad ibn Yasar.
    Karena kedalaman ilmu Imam ath-Thabari, maka wajar saja bila orang-orang ketika itu berlomba untuk menampung samudera ilmu yang terpancar dari beliau. Di antara sekian banyak ulama yang mengambil ilmu dari beliau : Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Nashr, Ahmad bin Qasim bin Ubaidillaah bin Mahdi, Sulaiman bin Ahmad bin Ayub al-Lakhmi, Muhammad bin Ahmad bin Hamdan bin Ali.
    Teman-teman dari Ibnu Jarir ath-Thabari, di antaranya : Ahmad bin Abdullah bin Ahmad al-Farghani,ia juga meriwayatkan karangan dari Ibnu Jarir, di antara karangan al-Faraghani adalah Sirah al-Aziz Sulthan al-Mishr dan kitab Sirah Kafur al-Ihsyidi. [5], Ibnu Yazid Abi Bakar al-Qardhi, yang menjadi hakim di daerah Kufah, di antara karangannya adalah kiab Gharib al-Quran, kitab al-Qiraat, kitab at-Taqrib fi Kasyfi al-Gharib, dan kitab al-Mukhtashar fi al-Fiqh.

 Mobilitas, Aktivitas dan Hasil Karyanya
    At-Tabari dapat dikatakan sebagai ulama multi talenta dan menguasai berbagai disiplin ilmu. Tafsir, qira’at, hadits, ushul al-din, fiqih perbandingan, sejarah, linguistik, sya`ir dan `arudh (kesusateraan) dan debat (jadal) adalah sejumlah disiplin ilmu yang sangat dikuasainya. Namun tidak hanya ilmu-ilmu agama dan alat, al-Thabari pandai ilmu logika (mathiq), berhitung, al-Jabar, bahkan ilmu kedokteran.Penguasaan al-Thabari terhadap berbagai disiplin ilmu ini menjadi catatan sendiri para ulama sepanjang masa, sehingga tidak heran sederet predikat dan sanjungan disematkan kepadanya. Al-Khathib al-Baghdadi (w.463H) salah satunya. Dalam kitab Tarikh Baghdad, ia menyatakan, “Al-Thabari adalah seorang ulama paling terkemuka yang pernyataannya sangat dipehitungkan dan pendapatnya pantas menjadi rujukan, karena keluasan pengetahuan dan kelebihannya. Ia menguasai berbagai disiplin ilmu yang sulit ditandingi oleh siapa pun di masa itu”.
    Pengakuan terhadap keilmuan at-Thabari tidak hanya datang dari para ulama lintas generasi sesudahnya yang mengkaji dan meneliti karya-karya  besarnya, seperti Ibn al-Atsir (w.630H), al-Nawawi (w.676H), Ibn Taimiyah (w.728H), al-Dzahabi (w.748H), Ibn Katsir (w.774H), Ibn Hajar al-`Asqalani (w.852H), al-Suyuthi (w.911H) dan lain-lain. Tapi para ulama yang hidup satu generasinya juga tidak kurang menyatakan kekaguman dan pujiannya, di antara pujian mereka terhadap Imam thabari adalah sebagai berikut :
    Abu Sa’id berkata: “Muhammaad bin Jarir berasal dari daerah Aamal, menulis di negri mesir. Lalu pulang ke Bagdad, dan telah mengarang beberapa kitab yang monumental, dan itu menunjukkan luasnya ilmu beliau. »
    Al Khotib berkata: “Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib: “Beliau adalah salah satu Aimmah Ulama’ (sesepuh ulama’), perkataannya bijaksana dan selalu dimintai pendapatnya karena pengetahuannya dan kemulyaannya. Beliau telah mengumpulkan ilmu-ilmu yang tidak penah ada seorangpun yang melakukannya semasa hidupnya. Beliau adalah seorang Hafidz, pandai ilmu Qiro’at, ilmu Ma’ani faqih tehadap hukum-hukum Al Qur’an, tahu sunnah dan ilmu cabang-cabangnya, serta tahu mana yang shohih dan yang cacat, nasikh dan mansukhnya, Aqwalus Shohabah dan Tabi’in, tahu sejarah hidup Manusia dan keadaanya. Beliau memiliki kitab yang masyhur tentang “sejarah umat dan beografinya” dan kitab tentang “tafsir” yang belum pernah ada mengarang semisalnya dan kitab yang bernama “Tahdzibul Atsar” yang belum pernah aku (Imam Adz Dzahabi) lihat semacamnya, namun belum sempurna. Beliau juga punya kitab-kitab banyak yang membahas tentang “Ilmu Ushul Fiqih” dan pilihan dari aqwal para Fuqoha’.
    Imam Adz Dzahabi berkata: “Beliau adalah orang Tsiqoh, jujur, khafidz, sesepuh dalam ilmu tafsir, imam (ikutan) dalam ilmu fiqh, ijma’ serta (hal-hal) yang diperselisihkan, alim tentang sejarah dan harian Manusia, tahu tentang ilmu Qiro’at dan bahasa, serta yang lainnya.
    Al Khotib berkata: “Aku mendengar Ali bin Ubaidillah bercerita: “Sesungguhnya Muhammad bin Jarir dirumah selama 40 tahun, setiap harinya beliau menulis 40 lembar. Al Qodhi Abu Abdillah Al Qudho’i: “Ali bin Nashir bin Ash Shobah telah menceritakan kepada kami, Abu Umar Uabidillah bin Ahmad As Simsar, dan Abul Qosim Al Waroq: “Bahwa ibnu Jarir At thobari berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Bagaimana pendapat kalian, bila aku akan menulis tentang sejarah alam dari sejak Adam sampai sekarang ini? Mereka bertanya: “Berapa banyakkah itu? Maka beliau menjawab, kira-kira 30 ribu lembar, lalu mereka berkata: ” kalau begitu umurmu akan memutus pekerjaanmu sebelum engkau bisa menyempurnakannya? Lalu beliau sadar, dengan berkata: “Innaalillah! Lalu beliau mengurungkan niatnya. Kemudian beliau ringkas karangan itu sebanyak 3000 lembar, dan ketika beliau ingin membuat tafsir, berkata kepada mereka seperti itu.
    Beliau adalah seorang laki-laki yang mempunyai ilmu yang sangat luas, maka tidak heran jika karangan beliau tak bisa dihitung hanya dengan waktu 1000 detik. Namun sangat disayangkan, mayoritas kitab beliau hilang dan tidak sampai kepada kepada kaum muslimin kecuali hanya sedikit. Dan hasil karya Imam Thabari antara lain:
1.Kitab Adabul Qodho’ ( Al Hukkam)
2.Kitab Adabul Manasik
3.Kitab Adab an-Nufuus
4.Kitab Syarai’al-Islam
5.Kitab Ikhtilaful Ulama’ atau Ikhtilaful Fuqoha’ atau Ikhtilafu Ulama’il Amshor fi Akhkami Syaroi’il Islam.
6.Kitab Al Basith, tentang kitab ini beliau Imam Adz Dzahabi berkata: “Pembahasan pertama adalah tentang thoharoh, dan semua kitab itu berjumlah 1500 lembar.
7.Kitab Tarikhul Umam wal Muluk (Tarikhul Rusul wal Muluk)
8.Kitab Tarikhul Rijal minas Shahabah wat Tabi’in.
9.Kitab at-Tabshir.
10.Kitab Tahdzib Atsar wa Tafsiilust Tsabit ‘Ani Rasulullah Saw Minal Akhbar. Az-Zahabi ketika mengomentari kitab ini mengatakan bahwa kitab ini termasuk salah satu kitab istimewanya Ibnu jarir, dimulai dengan sanad yang shadiq, lalu bebicara pada Ilal, thuruq dan fiqih hadits, ikhtiklaf ulama serta hujjah mereka, dalam kitab ini juga disebutkan makna-makna asing serta bantahan kepada Mulhiddin, kitab ini menjadi lebih sempurna lagi dengan adanya sanad al-Asyrah, Ahlu al-Bait, al-Mawali dan beberapa sanad dari Ibnu Abbas, dan kitab ini belum selesai pada akhir kematiaannya, lalu ia mengatakan: jika saja kitab ini dkteruskan, niscaya bisa sampai beratus-ratus jilid.
11.Kitab Al Jaami’ fiel Qira’at
12.Kitab Haditsul Yaman
13.Kitab Ar Rad ‘Ala Ibni ‘Abdil Hakim
14.Kitab az- Zakat
15.Kitab Al ‘Aqidah
16.Kitabul fadhail
17.Kitab Fadhail Ali Ibni Thalib
18.Kitab Mukhtashar Al Faraidz
19.Kitab Al Washaya,
    Dan masih banyak lagi kitab-kitab beliau yang tidak kami sebutkan disini.
    Selain banyaknya bidang keilmuan yang disentuh, bobot karya-karya  at-Tabari sangat dikagumi para ulama dan peneliti. Al-Hasan ibn Ali al-Ahwazi, ulama qira’at, menyatakan, “Abu Ja`far [at-Thabari] adalah seorang ulama fiqih, hadits, tafsir, nahwu, bahasa dan `arudh. Dalam semua bidang tersebut dia melahirkan karya bernilai tinggi yang mengungguli karya para pengarang lain”.

Akhlaq dan Perilaku Imam Tabari

    Imam Tabari bukan berasal dari keluarga yang mapan atau kaya, hal ini bisa dibuktikan dengan bekal dari orang tuanya yang ketika dicuri ia tidak dapat menggantinya lagi. Begitujuga kisah kelaparan yang dia alami selama di Mesir dan kiriman orang tuanya yang dikirim terlambat, sehingga ia terpaksa menjual pakaiannya. Al-Farghani menyebutkan perkataan Imam at-Thabari berkata; suatu ketika kiriman dari orang tuaku telat, hingga aku terpaksa merobek kedua lengan bajuku untuk kemudian aku jual. Selanjutnya Imam Thabari menuliskan keadaannya tersebut dalam sebuah puisi:
”Ketika aku kesusahan kawanku tak mengerti
Aku berusaha merasa kaya,  kawanku menganggap aku kaya
Rasa maluku menjaga air mukaku, kelembutanku membuat kawanku mencariku
Jika saja aku sia-siakan air mukaku, niscaya jalan kepada kepopuleran akan mudah
Dua sifat yang tidak rela aku melewatinya
Sombongnya sifat kaya dan hinanya kemelaratan
Ketika kau kaya janganlah kau sombong lagi ceroboh
Jika kau melarat maka sombongilah waktu”

    Hal ini cukup menguatkan kesimpulan bahwa kehidupan Imam Thabari  cukup memprihatinkan. Keterbatasan ekonomi tersebut tidak lantas melunturkan semangat Imam  Thabari dalam menuntut ilmu, di awal keberadaannya di Baghdad, at-Thabari berusaha mengatasai persoalan ini dengan mengajar anak menteri Abu Hasan bin Khaqan, itupun dengan kesepakatan tidak menganggu waktu belajar Imam Thabari, dari pekerjaan barunya, Imam Thabari menerima upah 10 dinar setiap bulan dan mendapat pinjaman 10 dinar untuk modal pertama.Gaya hidup sederhana dan bersahaja ini terus ia tanam hingga akhir hayatnya, Menteri al-Khaqani pernah pernah menawarkan jabatan Hakim Daulah Abbassiyah kepadanya, tapi ia tolak. Tidak hanya itu, at-Tabari juga menolak hadiah 1000 dinar dari menteri Al-Abbas bin Hasan atas buku yang ia buat, al-Khafif. Kedudukan yang begitu terhormat ini tidak lantas merubah gaya hidupnya, malahan ia tetap berusaha hidup sederhana dengan mengandalkan uang dari hasil panen yang ditinggalkan ayahnya di Thaburstan, padahal jika mau, ia bisa hidup dalam gelimang kemewahan, ia menggubah jalan hidupnya ini dalam sebuah puisi yang menarik untuk kita simak.
Ketika aku kesulitan uang
Tidak satupun sahabatku yang tahu
Tapi ketika aku punya uang
Sahabatku ikut merasakan kesenanganku
Rasa malu menjaga air mukaku
Rasa enggan meminta adalah sifatku
Andai saja aku tepis rasa malu
Jalan menjadi kaya terlalu mudah bagiku.


Penghargaan Ulama Terhadap Hasil Karya al-Imam at-Tabari

    Banyak didapati pengakuan terhadap Imam Thabari dalam usahanya mengembangkan Tafsir, seperti berikut ini:
    Imam An Nawawi dalam Tahdzibnya mengemukakan: “Kitab Ibnu Jarir dalam bidang tafsir adalah sebuah kitab yang belum seorangpun ada yang pernah menyusun  kitab yang menyamainya. Beliau juga pernah mengatakan: “”Umat telah bersepakat tidak ada yang menyamai tafsir beliau ini.” Imam as-Suyuthi, seorang mufasir menyatakan seperti berikut: “Kitab ibnu Jarir adalah kitab tafsir paling agung (yang sampai kepada kita). Di dalamnya beliau mengemukakan berbagai macam pendapat dan mempertimbangkan mana yang lebih kuat, serta membahas I’rob dan istimbat. Karena itulah ia melebihi tafsir-tafsir karya para pendahulu.” Syaikh Islam Ibnu Taimiyah telah memuji Imam Tabari, antara lain mengatakan: “Adapun tafsir-tafsir yang ditangan manusia, yang paling dahulu adalah tafsir Ibnu Jarir Ath Tabari, bahwa beliau (Ibnu jarir) menyebutkan perkataan salaf dengan sanad-sanad yang tetap, dan tidak ada bid’ah sama sekali, dan tidak menukil dari orang yang Muttahim, seperti Muqotil bin Bakir dan Al Kalbi.”
    As-Suyuthi telah meneliti thabaqah mufasir sejak awal kemunculan ilmu ini, dan ketika sampai pada Abu Jafar, ia menempatkannya pada thabaqah (tingkatan) yang pertama, kemudian ia berkata: “jika engkau bertanya: Tafsir apa yang engkau sarankan dan dijadikan sebagai bahan rujukan? Maka aku katakan: Tafsir Ibnu Jarir, yang para ulama telah bersepakat bahwa belum ada kitab tafsir yang semisalnya.” Abu Muhamamad Abdullah bin Ahmad bin Jafar al-Farghani mengatakan bahwa ia pernah bermimpi  mengikuti Majlis ilmu Abu Jafar dan manusia kala itu sedang membaca kitab Tafsir Ibnu jarir, lantas aku mendengar suara dari antara langit dan bumi yang mengatakan: Barangsiapa ingin mendengarkan al-Quran sebagaimana ia turun, maka dengarkanlah kitab ini.
 
Mazhab dan Aqidah Imam ath-Tabari
    Al Faroghi berkata: “Harun bin Abdul Aziz bercerita kepadaku:” Abu Ja’far At Tabari berkata: “aku memilih Madzhab imam Syafi’i, dan aku ikuti beliau di Baghdad selama 10 tahun.
    As Suyuthi berkata dalam kitab “Thobaqotul Mufassirin” hal: 3: “Pertama, beliau bermadzhab Syafi’i, lalu membuat madzhab sendiri, dengan perkataan-perkataan dan petikan-petikan sendiri, dan beliau mempunyai pengikut yang  mengikutinya. Dan aqidahnya adalah Aqidah Salaf as-Shalih.
    Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawanya mengatakan bahwa Imam Tabari adalah imam Ahlu Sunnah, hal ini beliau katakan ketika membahas mengenai al-Quran Kalamullah. Imam Ibnu Qayyim mengatakan, yang maknanya adalah bahwa Imam Tabari adalah Ahlu Sunnah. Hal ini dapat diketahui dari tulisan beliau Sharih as-Sunnah. Dan masih banyak lagi pernyataan para ulama mengenai aqidah beliau.

 Ibnu Jarir Ath-Thabari, Sosok Ahli Tafsir yang Disiplin Waktu

    Al-Qadhi (hakim) Abu Bakar Ahmad bin Kamil asy-Syajari murid Ibnu Jarir sekaligus sahabatnya berkata, “Apabila telah selesai makan pagi Ibnu Jarir ath-Thabari tidur sebentar dengan pakaian berlengan pendek. Setelah bangun beliau mengerjakan shalat Zhuhur. Lalu menulis artikel hingga waktu Ashar tiba. Kemudian keluar untuk shalat Ashar. Selanjutnya, beliau duduk di majlis bersama orang-orang untuk mengajar sampai datang waktu Maghrib. Setelah itu mengajar fikih serta pelajaran-pelajaran lain sampai masuk shalat Isya’, baru beliau pulang ke rumah. Beliau pandai membagi waktu siang dan malamnya untuk kemaslahatan diri, agama dan sesama sebagaimana yang dikehendaki Allah Ta’ala.“ Menurut al-Khatib al-Baghdadi, “Aku mendengar Samsami menuturkan bahwa Ibnu Jarir selama empat puluh tahun mampu menulis dalam setiap harinya sebanyak empat puluh halaman.”
    Sementara itu menurut muridnya yang lain yakni al-Farghani menceritakan di dalam kitabnya yang terkenal dengan nama ash-Shilah, sebuah pengantar kitab mengenai Sejarah Ibnu Jarir, bahwa terdapat sekelompok murid Ibnu Jarir yang berusaha menghitung seberapa banyak karya yang dihasilkannya setiap hari. Sepanjang hidupnya beliau sibuk dengan tulis menulis dimulai sejak usia baligh sampai wafat yakni di usia 86 tahun. Kemudian mereka menghitung jumlah lembaran-lembaran itu. Dari penghitungan tersebut dapat diketahui bahwa pada setiap harinya beliau menulis kurang lebih 14 lembar. Jelas ini merupakan sebuah prestasi yang tidak mungkin diraih seorang manusia pun pada waktu itu kecuali berkat Inayah Allah semata. Jika kita kalikan jumlah hari beliau menulis selama 72 tahun sedang setiap hari beliau menulis 14 lembar, maka jumlah karya Ibnu Jarir adalah 300.058 lembar. (Qimatuz Zaman Indal Ulama’, hal 43-44.)

Kesimpulan
    Ia adalah ulama pada masanya yang paling bersemangat dalam menuntut ilmu dan menggapainya, mengarang kitab-kitab induk. Bahkan ada yang meriwayatkan, ia mampu menulis sebanyak 40 halaman setiap harinya. Dialah Imam Muhammad bin Jarir ath-Thabari, pengarang dua kitab terbesar dalam bidang Tafsir dan Tarikh.Ia memulai perjalanan menutut ilmu pasca tahun 240 H. Banyak menjelajah bumi, bertemu dengan para tokoh mulia, menyodorkan bacaan al-Qur`an-nya kepada al-‘Abbas bin al-Walid, kemudian pindah darinya menuju Madinah Munawwarah, kemudian ke Mesir, Ray dan Khurasan. Lalu akhirnya menetap di Baghdad.
    At-Tabari termasuk ulama pada masanya yang paling produktif dalam menelorkan karya tulis. Di antara karya-karya tulisnya yang paling populer adalah tafsirnya yang bernama Tafsir ath-Thabari dan kitab Tarikh al-Umam Wa al-Muluk. Diriwayatkan darinya, bahwa ia pernah berkata, “Tiga tahun lamanya, aku memohon pilihan terbaik kepada Allah dan meminta pertolonganNya atas penulisan karya tafsir yang aku niatkan, sebelum aku mengerjakannya, lantas Dia memberikan pertolonganNya kepadaku.” Al-Hakim berkata, “Dan aku mendengar Abu Bakar bin Balwaih berkata, ‘Abu Bakar bin Khuzaimah berkata kepadaku, ‘Telah sampai ke telingaku bahwa engkau telah menulis tafsir dari Muhammad bin Jarir.’ Aku berkata, ‘Benar, aku menulis darinya secara dikte.’ Ia berkata, ‘Seluruhnya.?’ Aku berkata, ‘Ya.’ Ia berkata, ‘Tahun berapa.?’ Aku menjawab, ‘Dari tahun 283 H hingga 290 H.’ Ia berkata, ‘Lalu Abu Bakar meminjamnya dariku, kemudian mengembalikannya setelah sekian tahun, kemudian ia berkata, ‘Aku telah melihat isinya, dari awal hingga akhirnya. Aku tidak mengetahui di muka bumi ini ada orang yang paling berilmu dari Muhammad bin Jarir.’” Sebagian ulama berkata, “Andaikata seorang laki-laki bepergian ke China hingga mendapatkan tafsir Muhammad bin Jarir, maka pastilah tidak akan banyak.”
Rae Shella Tivani Mareta, mahasiswi program studi sastra Inggris FIB Universitas Brawijaya




No comments:

Post a Comment