Search

Loading...

AL-MIHRAB: Seputar Tahlilan dan Kenduri

Tuesday, 20 March 2012

Robert Bocock Pengurai Teori Hegemony Gramsci

                                              Oleh: Yulian Dwi Kurnia
               Dalam bukunya, Robert Bocock menyatakan, kongsep hegemoni adalah inti dari plobematika yang lebih luas menandai titik anjak baru dalam teori sosial untuk periode kontemporer. Gagasan tersebut berakar pada tahun 1920-an dan 1930-an. Singkatnya, hegemoni berarti "kepemimipinan moral dan filosofis", yaitu kepemimpinan yang dicapai lewat persetujuan aktif kelompok-kelompok utama dalam suatu masyarakat (society) yang disebut Ruling Class.
             Robert Bocock memperlihatkan mengapa gagasan-gagasan Gramsci memiliki pengaruh sangat besar dewasa ini. Para pemikir sosial yang dewasa ini menggunakan gagasan Gramsci-dari Stuart Hall sampai Anthony Giddens-disibukkan oleh suatu problematika yang telah diidentifikasi oleh Gramsci. Problematika tersebut adalah dominasi mutlak kapitalisme sebagi suatu sistem sosial dalam masyarakat yang gagal mengatasi berbagai masalah mendasar dalam hal keseimbangan politik, ekonomi, dan sosial.

        Antonio Gramsci adalah seorang pemikir Marxisme dari Italia, karya Gramsci bersifat sentral dalam kemunculan bentuk baru teori Marxisme, terutama di Italia sesudah perang dunia II. Karya Gramsci ditulis di dalam penjara dan diterbitkan dalam bahasa Inggris seperti selections from prison notebooks (1971). Sebelum Gramsci, kongsep hegemoni tidak bersifat sentral dalam teori Marxisme.
                Menurut Robert Bocock (1986)  dalam banyak kepustakaan Marxis menunjukkan, bahwa konsep hegemoni secara historis pertama kali diproduksi di Rusia pada tahun 1880 oleh seorang Marxis Rusia, Plekanov. Konsep ini dibangunnya sebagai bagian dari strategi untuk menjatuhkan pemerintahan Tsar. Hegemoni dalam definisi ini mengacu pada pengertian kepemimpinan hegemonic-ploretariat serta perwakilan-perwakilan politik mereka serta aliansi-aliansi dengan kelompok lain seperti kaum borjuis kritis, petani dan intelektual yang berkeinginan sama untuk menjatuhkan pemerintahan Tsar.
                  Konsep hegemoni Gramsci (2001) sebenarnya dapat dirunut melalui penjelasannya tentang Basis dari Supremasi Kelas, di mana supremasi kelompok di masyarakat menunjukkan eksistensinya melalui dua cara, yakni lewat dominasi (dominance) dan kepemimpinan intelektual (direction). Kedua kelompok ini akan terus-menerus saling menundukkan. Biasanya kelompok sosial yang satu mendominasi kelompok-kelompok oposisi lewat berbagai cara, termasuk kekuatan senjata untuk melumpuhkannya. Di satu sisi, kelompok-kelompok sosial yang dipimpin oleh para intelek akan berusaha melawan dominasi rezim lewat mobilisasi kelompok kerabat, mahasiswa dan stake holder basis masyarakat lainnya. Gramsci mengisyaratkan satu hegemoni bisa hancur dan digantikan oleh kelompok sosial lainnya yang memiliki posisi yang dominan, sehingga menghasilkan rezim baru (rulling elite).
                 Penjelasan Gramsci tentang supremasi kelas, seperti di atas menurut Nezar dan Andi (Ibid :118) menunjukkan suatu totalitas yang didukung oleh kesatuan dua konsep yakni direction dan dominance. Hubungan kedua konsep ini menyiratkan tiga hal yakni : (1) dominasi dijalankan atas seluruh musuh dan kepemimpinan dilakukan kepada segenap sekutu. (2) kepemimpinan adalah suatu pra-kondisi untuk menundukkan aparatus negara (kekuasaan pemerintahan) dan (3) sekali kekuasaan negara bisa direnggut, dua aspek supremasi kelas ini baik pengarahan ataupun dominasi akan terus berlanjut.
              Analisis Gramsci di atas berusaha memberikan penjelasan bahwa sebenarnya semua kelas sosial di masyarakat memiliki kecenderungan untuk menghegemoni, ketika memiliki kemampuan untuk mendominasi. Dominasi adalah kunci awal dalam proses hegemoni. Di antara sekian potensi dominasi, negara adalah institusi yang paling subur dalam hal dominasi, sehingga wajar apabila negara memiliki kecenderungan tinggi untuk menghegemoni masyarakatnya.
                Dalam konteks pengakuan dirinya sebagai seorang revolusioner yang tugasnya menciptakan revolusi sebagai suatu alternatif strategi bagi  ”kemegahan”  perjuangan sosialis, khususnya Italia dan Eropa umumnya, maka Gramsci dalam Hendarto (1993) mengemukakan tiga tingkatan hegemoni yaitu : pertama, hegemoni integral, yakni hegemoni yang ditandai dengan afiliasi massa yang mendekati totalitas. Masyarakat menunjukkan tingkat kesatuan moral dan intelektual yang kokoh. Ini tampak dalam hubungan organis antara pemerintah dengan yang diperintah. Hubungan tersebut tidak diliputi dengan kontradiksi dan antagonisme, baik secara sosial maupun etis. Contoh untuk hal ini adalah Prancis setelah Revolusi tahun 1879.
             Kedua, hegemoni yang merosot (decadent hegemony), yakni kemerosotan yang disebabkan oleh lemahnya ”mentalitas” massa yang tidak sungguh-sungguh selaras dengan pemikiran yang dominan dari subjek hegemoni, walaupun sistem yang ada telah mencapai kebutuhan dan sasarannya. Karena itu, integrasi budaya maupun politik mudah runtuh. Ketiga, hegemoni minimum (minimal hegemony), merupakan bentuk hegemoni yang paling rendah, dibanding  dua bentuk di atas. Situasi inilah yang terjadi di Italia dari periode unifikasi sampai pertengahan abad ini. Hegemoni bersandar pada kesatuan ideologis antara elit ekonomis, politis dan intelektual yang berlangsung bersamaan dengan keengganan terhadap setiap campur tangan massa dalam hidup bernegara.

Counter Hegemony
            Konsep counter hegemony merupakan salah satu konsep tentang Kritik Rakyat atas Penguasa yang dimotori oleh ilmuwan asal Italia, Antonio Gramsci sebagai jawaban atas proses hegemoni kelompok dominan. Bagi Gramsci, realitas sosial yang ditunjukkan dengan adanya karakter kapitalistik yang eksploitatif, demikian juga dengan otoritaritarianisme rezim politik Bennito Mussolini, ternyata tidak kunjung memunculkan revolusi sosial, seperti yang dianggarkan oleh Marxisme Klasik. Bahkan justru yang muncul adalah gejala go to silent para revolusioner.
             Gejala diamnya para revolusioner (buruh dan kaum proletar) disebabkan oleh seperangkat kepentingan politik (political interest) yang menghegemoni yang diselundupkan oleh massa rakyat yang tertindas. Lebih ironis, massa buruh yang ada cenderung menjadi kelompok sosial yang “tabah akan penderitaan”. Dalam kondisi seperti inilah kalangan cendekiawan-transformatif yang ia namakan intelektual organik sangat diperlukan.
            Analisis Gramsci lebih cenderung pada hegemoni akan selalu identik dengan penyusunan kekuasaan. Dalam Selection from Prison Notebooks (SPN), sebenarnya Gramsci mempercayai teoritisasi dan realisasi hegemoni menurut Lenin, yang sangat membenci Taylorisme, di mana Taylorisme merupakan sebuah praktek teknokratisme dan koorporatisme yang menjadi eksperimen kapitalis untuk mendisiplinkan para pekerja melalui spesialisasi mekanis dengan metode yang mengutamakan efisiensi.
              Analisis Gramsci dipertajam dengan mendudukkan posisi masyarakat sipil dalam sebuah struktur masyarakat. Di mana masyarakat sipil itu pada dasarnya sebagai suprastruktur. Jika Marx meletakkan dengan gamblang negara di bawah masyarakat sipil, dan dengan demikian masyarakat sipil  yang menentukan negara dan membentuk organisasi dan tujuan dari negara dalam lingkup hubungan produksi, maka berbeda dengan para Marxis lainnya, meski sama-sama merujuk pada GWF. Hegel (1770-1831), Gramsci justru menunjukkan bahwa masyarakat sipil adalah bukan sebagai -bukan totalitas hubungan-hubungan ekonomi-, basic structure, melainkan sebagai superstruktur. Dengan demikian masyarakat sipil, yang salah satunya kalangan intelektual tidak berada pada moment struktur, tetapi sebagai superstruktur.
                Penjelasan-penjelasan Gramsci tentang keterlibatan secara semestinya kaum intelektual sebagai pengawal hegemoni, boleh jadi merupakan sumbangan terpenting Gramsci dalam Selection from Prison Notebooks. Gramsci membagi kepemimpinan hegemonik dalam lingkup moral dan intelektual. Bahkan ia mengatakan bahawa peran intektual dalam transformasi adalah dasar dari superstruktur yang ada, yang menampilkan fungsi organisasional dan konektif. Para intektual harus berdiri pada dua wilayah; pertama, intektual teori (tradisional), dan kedua, intektual yang mampu menghubungkannya dengan realitas nyata sosial (intelektual-organik). Intelektual-organik dengan demikian adalah intelektual yang secara sadar dan mampu menghubungkan teori dan realitas sosial yang ada dan ia bergabung dalam kelompok-kelompok revolusiner untuk mensupport dan mengcounter hegemony pada sebuah transformasi sosial yang direncanakan, walaupun memiliki resiko yang sangat besar dan membahayakan.
                Indonesia sekarang dan ke depannya untuk terus-menerus mengawal kecendrungan kekuasaan yang hegemonik.
Yulian Dwi Kurnia, Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris FIB Universitas Brawijaya

1 comment:

  1. ini mah pembahasan tentang Gramsci , bukan Robert Bocock.. swt

    ReplyDelete