Search

Loading...

Thursday, 3 November 2011

Basuki Abdullah - Sang Pelukis Naturalis

Oleh: Almas Fadhil R
              Basoeki Abdullah (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 25 Januari 1915 – meninggal 5 November 1993 pada umur 78 tahun) adalah salah seorang maestro pelukis Indonesia. Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Ia pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, di samping menjadi barang koleksi dari berbagai museum dan kolektor di penjuru dunia.

Masa muda
         Bakat melukisnya terwarisi dari ayahnya Abdullah Suryosubroto yang juga seorang pelukis dan penari. Sedangkan kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada awal tahun 1900-an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun Basoeki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal di antaranya Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krishnamurti.
                 Pendidikan formal Basoeki Abdullah diperoleh di HIS Katolik dan Mulo Katolik di Solo. Berkat bantuan Pastur Koch SJ, Basoeki Abdullah pada tahun 1933 memperoleh beasiswa untuk belajar di Akademik Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, di Belanda, dan ia menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA).

Aktivitas
        Pada masa Pemerintahan Jepang, Basoeki Abdullah bergabung dalam Gerakan Poetra atau Pusat Tenaga Rakyat yang dibentuk pada tanggal 19 Maret 1943. Di dalam Gerakan Poetra ini Basoeki Abdullah mendapat tugas mengajar seni lukis. Murid-muridnya antara lain Kusnadi (pelukis dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain organisasi Poetra, Basoeki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo (sebuah Pusat Kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi, S.Sudjoyono, Otto Djaya dan Basoeki Resobawo.
            Di masa revolusi Bosoeki Abdullah tidak berada di tanah air yang sampai sekarang belum jelas apa yang melatarbelakangi hal tersebut. Jelasnya pada tanggal 6 September 1948 bertempat di Belanda Amsterdam sewaktu penobatan Ratu Yuliana dimana diadakan sayembara melukis, Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan berhasil keluar sebagai pemenang.
         Sejak itu pula dunia mulai mengenal Basoeki Abdullah, putera Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia. Selama di negeri Belanda Basoeki Abdullah sering kali berkeliling Eropa dan berkesempatan pula memperdalam seni lukis dengan menjelajahi Italia dan Perancis dimana banyak bermukim para pelukis dengan reputasi dunia.
                Basoeki Abdullah terkenal sebagai seorang pelukis potret, terutama melukis wanita-wanita cantik, keluarga kerajaan dan kepala negara yang cenderung mempercantik atau memperindah seseorang ketimbang wajah aslinya. Selain sebagai pelukis potret yang ulung, diapun melukis pemandangan alam, fauna, flora, tema-tema perjuangan, pembangunan dan sebagainya.
                Basoeki Abdullah banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok (Thailand), Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal dan negara-negara lain. Lebih kurang 22 negara yang memiliki karya lukisan Basoeki Abdullah. Hampir sebagian hidupnya dihabiskan di luar negeri di antaranya beberapa tahun menetap di Thailand dan diangkat sebagai pelukis Istana Merdeka dan sejak tahun 1974 Basoeki Abdullah menetap di Jakarta.

Kehidupan Pribadi
       Basoeki Abdullah selain seorang pelukis juga pandai menari dan sering tampil dengan tarian wayang orang sebagai Rahwana atau Hanoman. Ia tidak hanya menguasai soal kewayangan, budaya Jawa di mana ia berasal tetapi juga menggemari komposisi-kompasisi Franz Schubert, Beethoven dan Paganini, dengan demikian wawasannya sebagai seniman luas dan tidak Jawa sentris.
                    Basoeki Abdullah menikah empat kali. Istri pertamanya Yoshepine (orang Belanda) tetapi kemudian berpisah, mempunyai anak bernama Saraswati. Kemudian menikah lagi dengan Maya Michel (berpisah) dan So Mwang Noi (berpisah pula). Terakhir menikah dengan Nataya Narerat sampai akhir hayatnya dan mempunyai anak Cicilia Sidhawati. Basoeki Abdullah tewas dibunuh perampok di rumah kediamannya pada tanggal 5 November 1993. Jenasahnya dimakamkan di Desa Mlati, Sleman, Yogyakarta.

Karya - karya Basuki Abdullah :
        Lukisan "Kakak dan Adik" karya Basoeki Abdullah (1978). Kini disimpan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Laksana Karang Diterjang Ombak
        “Setahu saya, koleksi lukisan Bung Karno tidak hanya objek wanita-wanita cantik… tetapi juga objek-objek lain,” begitu kurang lebih nada protes lunak seorang teman, usai membaca posting terdahulu yang berjudul “Perempuan dalam Lukisan”.  Saya meng-amin-i, karena memang begitulah adanya.
        Suatu ketika, Bung Karno duduk terpekur lama sekali di depan sebuah lukisan karya Basuki Abdullah. Kali ini, objeknya bukan wanita setengah telanjang, melainkan lukisan yang menggambarkan ombak laut ganas menghantam sebuah karang yang tegak berdiri. Bergeming. Dalam situasi seperti itu, tidak stu pun ajudan berani mendekat. Tidak satu pun pengikut berani beringsut.
        Masing-masing yang ada di ruang pamer, tenggelam dalam pikirannya sendiri-sendiri. Bung Karno? Bisa jadi ia tengah tenggelam dalam satu bayangan, bahwa dirinyalah sang karang yang tengah diterjang-terjang sang ombak ganas. Karang itu adalah dirinya, yang tetap tegak-teguh-tegar menghadapi hantaman-hantaman gelombang samudera terus-menerus, silih berganti, susul-menyusul. Seperti itulah kiasan perjalanan politik Bung Karno. Ia tidak saja dihantam anasir-anasir dari dalam, tetapi juga dari  luar negeri.
        Kisah yang lain, dituturkan oleh Bambang Widjanarko  ajudan. Bung Karno bukan sekali-dua berdiri lama memandang suatu objek lukisan. Seperti misalnya ketika pada suatu saat, matanya terpatri pada satu objek lukisan pemandangan alam Indonesia yang begitu indah. Gunung yang tinggi menjulang, berselimut kabut tipis. Di bawah gunung, terhampar hutan menghijau dan sawah bertanam padi menguning. Sementara, aliran sungai tampak berliku membelah bumi Indonesia yang begitu indah. Bumi Indonesia yang begitu dicintai dan dibanggakan Bung Karno.
        Ringkas kalimat, Bung Karno bukan saja seorang seniman lukis. Mengingat, sebagai pelukis, ia telah melahirkan sejumlah karya yang tidak bisa dibilang buruk. Di sisi yang lain, ia juga seorang penikmat seni rupa sejati. Lebih dari itu, ia juga seorang kritikus seni rupa sekaligus kurator yang andal. Jejak-jejak kesenimanan Bung Karno, bisa kita nikmati dalam sejumlah buku yang mengabadikan koleksi lukisan Bung Karno. Ratusan bahkan mungkin ribuan objek lukisan yang dimilikinya. Bangsa ini patut bertanya… ke mana semua lukisan koleksi Bung Karno sekarang?

Perempuan dalam Lukisan
      Bung Karno pemuja wanita cantik…. Ya! Bahkan ia sempat meralat pemberitaan media Barat yang antara lain mengejek… “Bung Karno selalu melirik setiap melihat wanita cantik….” Yang benar, kata Bung Karno… “Bung Karno menatap setiap wanita cantik dengan kedua buah matanya bulat-bulat!“.
      Bukan terhadap wujud dan sosok wanita. Bahkan terhadap setiap lukisan wanita, lengkap dengan keindahan yang melekat pada tubuhnya, Bung Karno akan menyukainya. Tak heran jika ia menjadi salah satu kolektor lukisan karya Basuki Abdullah. Maklumlah, Basuki Abdullah tergolong salah maestro pelukis Indonesia, yang sangat piawai menampilkan sosok perempuan dengan segala kelebihannya.
      Kepada salah satu ajudannya, Bambang Widjanarko, Bung Karno pernah mengakui tentang kekagumannya terhadap lukisan-lukisan Basuki Abdullah. Ia juga mengaku, sebagai pelukis maupun penikmat lukisan, Bung Karno cenderung menyukai aliran naturalisme. “Bambang, aku tahu betul bahwa banyak aliran dalam lukisan, dan setiap aliran mempunyai pengikut dan pengagumnya. Aku sendiri senang pada naturalisme, khususnya yang menonjolkan keindahan, apakah itu manusia, makhluk hidup, ataupun benda mati,” ujar Bung Karno kepada ajudannya, pada suatu hari.
      Bung Karno menambahkan, “Setiap orang selalu ingin menunjukan kebaikan ataupun keindahan dirinya, dan setiap benda betapa pun kecilnya mempunyai keindahn pula. Aku senag melihat dan menimati keindahannya itu, keindahan yang dianugerahkan Tuhan kepada yang diciptakanNya.”
      Bung Karno sendiri mengoleksi banyak lukisan, termasuk lukisan-lukisan wanita cantik. Beberapa lukisan bahkan ada yang benar-benar menonjolkan keindahan bagian tubuh, entah mata yang sayu merayu, atau mata yang bersinar-binar, atau bibir tipis tersenyum manis, atau bibir indah bak buah manggis merekah, ada kalanya rambut ikal mayang yang terurai, atau bahkan yang… memperlihatkan keindahan seluruh tubuh wanita itu sendiri!
      Nah, khusus terhadap kesenangannya akan lukisan wanita cantik, Bung Karno pernah menerangkan, “Aku memang dilahirkan dengan sifat yang demikian, dan aku tidak memungkirinya. Bahkan aku mensyukurinya karena itu pemberian Tuhan. Tuhan memang menciptakan wanita penuh dengan keindahan. Saya kira setiap laki-laki normal pasti senang melihat wanita cantik atau senang melihat keindahan yang ada pada diri wanita itu.”  Mari kita hela nafas sejenak

Menatap “Bung Karno Berdasi Merah”
                      Lupa tanggal dan bulan, samar pula tahunnya. Nantilah saya cek. Tapi sebagai cantelan peristiwa, baiklah saya sebut saja sekitar tahun 2006, ketika tokoh GMNI, H. Amin Aryoso mengajak saya menuju kediaman Jusuf Ronodipuro, di Jl. Talang Betutu, Menteng, Jakarta Pusat. Konteksnya adalah menggali sejarah langsung dari sumbernya. Kebetulan, tokoh ini, dikenal sebagai pembaca teks proklamasi melalui pemancar RRI pada tanggal 17 Agustus 1945.
               Hasil bincang-bincang siang sampai sore hari itu, sempat pula saya tulis untuk tabloid Cita-Cita, sebuah tabloid yang mengusung tema nasionalisme dan non partisan. Sayang, hingga naskah ini publish, saya belum menemukan pula dokumentasi digital tabloid tersebut. Berhubung tulisan ini dimaksudkan bukan untuk menyorot peran Jusuf Ronodipuro pada awal-awal kemerdekaan Indonesia, maka saya lewatkan saja pencarian itu. “Sesuatu, manakala dicari sering menghilang, begitu sudah tidak dicari, muncul,” gumam saya.
                 Ini adalah fase pasca bincang-bincang. Dikatakan bincang-bincang memang karena forumnya benar-benar tidak formal. Dengan Amin Aryoso, dia lebih banyak bernostalgia. Dengan saya, dia banyak menuturkan kisah sejarah. Alhasil, obrolan gado-gado hari itu buat saya cukup berkesan.
                    Tibalah Jusuf Ronodipuro, dengan sedikit susah payah bangun dari duduk, dan berjalan pelan sekali menyusur ruang tamu hingga ruang tengah yang berbentuk “L”. Nah, pada salah satu dinding itulah, terpajang lukisan Basuki Abdullah ini. Lukisan dengan objek Bung Karno berdasi merah. Itu adalah salah satu koleksi lukisan paling disayang oleh Ronodipuro. Berdiri di bawah lukisan tadi, ia bisa menatapnya lama hingga tak terasa air mata menggenang di kedua pelupuk matanya yang tua.
                 Lukisan yang memiliki kekentalan daya magis bagi yang merasakan. Setidaknya, Jusuf Ronodipuro merasakan getar-getar itu. Manakala ia berkisah tentang sosok Bung Karno dalam bingkai lukisan dengan penuh penjiwaan, saat itu saya sendiri masih bergulat dengan mata batin saya, yang tak kunjung bisa menangkap getaran yang dirasakan si empunya lukisan. Hingga selesai sesi menikmati lukisan tadi, hanya kesan datar yang berhasil kutangkap, “Istimewa, seperti halnya karya Basuki Abdullah yang lain.”
                Saat rehat, topik sudah tidak lagi sekental jam-jam sebelumnya, saya mohon izin untuk kembali menatap lukisan ini. Saya melangkah pelan ke bawah lukisan ini, membiarkan Jusuf Ronodipuro dan Amin Aryoso melanjutkan obrolan cair yang tentunya menyehatkan jiwa keduanya.
                Saya berkonsentrasi sejenak. Lebih dua menit saya memusatkan pikiran, sambil membenamkan sorot mata dan konsentrasi ke objek di depan saya. Dari mana saya hendak berkomunikasi dengan “Bung Karno” di atas kanvas, di depan saya? Saya awali dengan menatap sorot matanya. Kemudian saya biarkan mata ini berjalan tanpa kendali pikir. Dan ternyata, ia bergeser ke kiri, ke arah kepalan tangan.
                     Ada desir rasa yang entah bagaimana saya harus mengungkapkan. Sebab, kalau dibahasakan, yang keluar hanyalah sekadar kata “heroik”, padahal yang ada di dalam dada adalah heroisme yang bergelombang, mengikuti guratan dan sapuan kuas Basuki Abdullah. Dasi warna merah yang terjurai, menusukkan satu lagi getar yang dalam. Bayang-bayang wajah serta gurat latar, melengkapi seluruh makna yang terangkum dalam otak dan dada. Dia adalah selimut sejarah.
                  Syahdan… kini, lukisan itu sudah lepas dari dinding. Hilang tahun 2008, setelah Jusuf Ronodipuro wafat. Yang “mencuri”, bukanlah “pencuri”, mengingat dia adalah putra almarhum Jusuf Ronodipuro sendiri.

Almas Fadhil R, Mahasiswa Jurusan Seni Rupa FIB universitas Brawijaya

Sumber:  id.wikipedia.org,  www.tokoh-indonesia.com

No comments:

Post a Comment