Search

Loading...

AL-MIHRAB: Seputar Tahlilan dan Kenduri

Wednesday, 5 October 2011

Al-Kindi – Filsuf Muslim Pertama

Oleh: Izzulfikri M.Ansorullah

                   Filsafat yang bermakna cinta kepada kebijaksanaan,  menjadikan pengetahuan sebagai wahana untuk berusaha dan mencapai tujuan menjadi bijaksana atau dengan kata lain, filsuf (orang yang berfilsafat)  mengabdikan dirinya kepada pengetahuan untuk mencapai kebijaksanaan. Orang yang cinta pengetahuan tentang kebijaksanaan itulah yang  disebut “ filsuf “ atau “ filosof”.
                 Syekh Mustafa Abdurraziq, setelah meneliti pemakaian kata “ filsafat” di kalangan muslim, yaitu bermakna  “hikmah dan hakim”. Mereka menyatakan hukama-ul-Islam atau falasifatul Islam . Artinya, ilmu ini hadir di dunia islam, tanpa membedakan etnis dan bahasa.

                Al-kindi adalah salah seorang filosof muslim yang pengetahuannya sangat smart dan sophisticated. Memadukan filsafat dan agama sama – sama mencari kebenaran dengan menggunakan akal. Al-haq al-awwal baginya adalah Tuhan. Filsafat yang paling tinggi adalah filsafat tentang Tuhan. Setelah Tuhan menciptakan manusia. Dia tiupkan ruh-Nya sehingga manusia hidup, Ruh itu sendiri  urusan Tuhan. Sementara dengan ruh- lah manusia memperoleh pengetahuan yang sebenarnya.
                  Al-Kindi (يعقوب بن اسحاق الكندي) (lahir: 801 - wafat: 873), adalah filsuf pertama yang lahir dari kalangan Islam. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, al-Kindi  mahir berbahasa Yunani. Banyak karya para filsuf Yunani diterjemahkan oleh Al-Kindi ke dalam bahasa Arab; antara lain karya Aristoteles dan Plotinus. Sayangnya ada sebuah karya Plotinus yang diterjemahkannya dan secara keliru disebutkan sebagai karangan Aristoteles, yaitu karya yang  berjudul Teologie, sehingga di kemudian hari ada sedikit kebingungan.
              Al-Kindi lahir  dari kalangan bangsawan Irak. Ia berasal dari suku Kindah, hidup di Basrah dan meninggal di Baghdad pada tahun 873. Ia merupakan seorang tokoh besar dari bangsa Arab yang menjadi pengikut Aristoteles, yang telah memengaruhi konsep al-Kindi dalam berbagai doktrin pemikiran dalam bidang sains dan psikologi.
            Al Kindi menuliskan banyak karya dalam berbagai bidang seperti  geometri, astronomi, astrologi, aritmatika, musik, fisika, medis, psikologi, meteorologi, dan politik. Ia membedakan antara intelek aktif dengan intelek pasif yang diaktualkan dari bentuk intelek itu sendiri. Argumen diskursif dan tindakan demonstratif ia anggap sebagai pengaruh dari intelek ketiga dan yang keempat. Dalam ontologi dia mencoba mengambil parameter dari kategori-kategori yang ada, yang ia kenalkan dalam lima bagian: zat, bentuk, gerak, tempat, waktu, yang ia sebut sebagai substansi primer.
                  Al Kindi mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian diselesaikan oleh Ibnu Sina (Avicenna) seabad kemudian. Ia juga tokoh pertama yang berhadapan dengan berbagai aksi kejam dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para bangsawan religius-ortodoks terhadap berbagai pemikiran yang dianggap bid'ah, dan dalam keadaan yang sedemikian tragis (terhadap para pemikir besar Islam) al Kindi dapat membebaskan diri dari upaya kejam para bangsawan ortodoks itu.
” Tuhan memberikan hikmat kepada orang yang dikehendaki nya dan siapa yang diberi hikmat, maka ia telah diberi kebaikan yang banyak sekali dan hanya orang – orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran” ( QS. Al-Baqarah: 269).

BIOGRAFI AL- KINDI
              Al-Kindi yang dikenal sebagai filosof muslim pertama keturunan Arab, memiliki  nama lengkap  Abu Yusuf  Ya`qub  ibn Ishaq  ibn Shabbah  ibn  Imran  ibn  Ismail  ibn  Muhammad  ibn  Al-Asy`ats  ibn  Qais al-Kindi. Ia berasal  dari  kabilah  Kindah, termasuk  kabilah  terpandang  di kalangan  masyarakat  Arab yang asalnya dari   daerah  Yaman  dan  Hijaz, di mana  al-Asy`ats ibn Qais adalah   salah  seorang  sahabat  Nabi Saw,  yang  meriwayatkan  hadist  bersama  Sa’ad  bin  Abi  Waqqas.  Al-Asy’ats binb Qais ikut  perang  Siffin di bawah  pimpinan  Ali  ibn  Abi  Tholib di mana ia memegang  panji  Kabilah  Kindah.
              Al-Kindi  lahir di kota Kuffah  sekitar tahun  185 H  (801 M )  atau  awal  abad  ke -9  M. Ayahnya,   Ishaq  ibn  al-Shabbah  bekerja  sebagai  gubernur  Daulah  Abbasiah, pada masa  pemerintahan  Khalifah al-Mahdi  ( 775 – 785 M ) dan masa  Harun Ar-Rasyid  (786 -809 M ). Walaupun orang tuanya meninggal pada usia mudanya  namun  kehidupannya  tergolong  lumayan.  Meski anak pejabat,  ia tidak  sombong  dan sama sekali tidak  manja.  Ia  lebih  senang  mempelajari  ilmu agama  seperti   al-Quran, dan ,al-Hadis. Tapi ia juga mempelajari  ilmu berhitung dan beberapa bidang ilmu  lainnya baik sewaktu tinggal  di kota  Basrah  maupun di kota Baghdad.
                 Kuffah dan Basrah, pada  abad  ke 2  dan  ke 3 H ( abad 8 dan 9 M ) merupakan  dua  pusat kebudayaan  Islam  yang  maju. Kuffah  lebih  cenderung  kepada  studi – studi aqliah; dan dalam lingkungan intelektual  inilah al-Kindi  melewatkan  masa  kecilnya. Dia menghafal  al-Quran, mendalami bahasa Arab, kesusastraan,   ilmu  hitung, fiqh,  dan  kalam,  tetapi  ia lebih tertarik kepada  ilmu  pengetahuan  dan filsafat, yang  pada  keduanya  ia  mengabdikan  seluruh sisa hidupnya. Al-Kindi adalah  seorang  yang  sangat cerdas. Ia telah  banyak  menerjemahkan  buku  filsafat,  menjelaskan  berbagai  masalah, menyimpulkan  berbagai problem yang sulit dan  mengungkapkan  problem  yang  sukar  dipahami. Hal  itu karena  ia  banyak  menguasai  bidang-bidang   ilmu yang berkembang  pada  waktu  di  Kuffah  dan  Baghdad  seperti   ilmu kedokteran,  filsafat,  semantik,  geometri,  al-jabar,  ilmu falak, bahkan  ia  berkemampuan  menggubah  lagu. Al Kindi  menulis  banyak  karya  dari  ilmu  pengetahuan yang  dikuasainya   dalam berbagai  bidang  keilmuan seperti  geometri, astronomi, astrologi, aritmatika, musik, fisika, medis, psikologi, meteorologi, dan politik.
           Dalam bidang filsafat Al-Kindi  membedakan antara intelek aktif dengan intelek pasif yang diaktualkan dari bentuk intelek itu sendiri. Argumen diskursif dan tindakan demonstratif ia anggap sebagai pengaruh dari intelek ketiga dan yang keempat. Dalam Ontologi dia mencoba mengambil parameter dari kategori-kategori yang ada, yang ia kenalkan dalam lima bagian: zat (materi), bentuk, gerak, tempat, waktu, yang ia sebut sebagai substansi primer.
            Al Kindi mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian diselesaikan oleh Ibnu Sina (Avicenna) seabad  kemudian. Ia juga tokoh pertama yang berhadapan dengan berbagai aksi kejam dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para bangsawan religius-ortodoks terhadap berbagai pemikiran yang dianggap bid’ah, dan dalam keadaan yang sedemikian tragis (terhadap para pemikir besar Islam) al Kindi dapat membebaskan diri dari upaya kejam para bangsawan ortodoks itu.
            Dengan prestasinya itu, tidak heran kalau al-Kindi digolongkan sebagai seorang ahli dari berbagai ilmu pengetahuan. Karena ia hidup pada puncak kejayaan islam pada Daulah Abbbasiah ( al-amin, 809 – 813 M ; al-Ma`mum, 813 – 833 M ). Kemashuran al-Kindi sangat luar biasa sehingga Khalifah al-Mu`tashim mengangkatnya sebagai guru pribadi putranya, Pangeran  Ahmad, yang kepadanya ia persembahkan karya – karya pentingnya, di mana karya-karya itu  telah menghiasi kerajaan al-Mu`tashim.
              Kelahiran dan kematian al-Kindi sebenarnya tidak ada kesahihan, termasuk  siapa saja tokoh yang pernah menjadi gurunya. Louis Massignon mengatakan bahwa al-Kindi  wafat sekitar 246 H (860 M ).  C. Nallino menduga Al-Kindi wafat tahun 260 H (873 M ), T.J.de Baer menyebut al-Kindi wafat tahun 257 H ( 870 M ), Mustafa Abd al-Raziq mengatakan al-Kindi wafat  tahun 252 H ( 866 H ),  dan Takut al-Himawi menyebutkan al-Kindi wafat  setelah berusia 80 tahun atau lebih sedikit.

KARYA – KARYA AL-KINDI
           Sebagai seorang filsuf yang sangat produktif, diperkirakan karya yang pernah di tulis oleh al-Kindi dalam berbagai bidang tidak kurang dari 270 buah. Dalam bidang filasafat di antaranya adalah :

a)  Kitab al-falsafah al-Dakhilat wa al-Masa`il al-Mantiqiyah wa al-Muqtashah wa ma fawqa al-Thabiiyyah         (tentang filsafat yang diperkenalkan dan masalah – masalah logika dan musykil, serta metafisika ).
b) Kitab al-Kindi ila al-Mu`tashim Billah fi al-falsafah al-Ula ( tentang filsafat pertama ).
c) Kitab Fi Annahu al-Falsafah illa bi` jlm al-Riyadiyah (tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan  
    ilmu   pengetahuan dan matematika ).
d) Kitab fi qashd Aristhathalisfi al-Maqulat (tentang maksud – maksud Aristoteles dalam kategori –
     kategorinya).
e) Kitab fi Ma`iyyah al-Ilm wa Aqsamihi (tantang sifat ilmu pengetahuan dan klasifikasinya).
f) risalah fi Hudud al-Asyya`wa Rusumilah ( tentang definisi benda – benda dan uraiannya ).
g) Risalah fi Annahu jawahir la Ajsam (tentang substansi – substansi tanpa badan).
h) Kitab fi ibarah al-jawami` al-Fikriyah (tentang ungkapan – ungakapan mengenai ide – ide komprehensif).
i) Risalah al Hikmiyah fi Asrar al-Ruhaniyah (berisi kupasan filosofis tentang rahasia – rahasia ruhani).
j) Risalah fi al-Ibanah an al-Illat al-Fa`ilat al-Qaribah li al-kawn wa al Fasad (tentang penjelasan mengenai
   sebab dekat yang aktif terhadap alam dan kerusakannya).

FILSAFAT AGAMA AL-KINDI
            Falsafat atau filsafat adalah  kata yang  berasal  dari  bahasa  Yunani,   philo dan sophia  sebagai gabungan  dari kata  philein  yang berarti” cinta “ dan kata  shoppos  yang  berarti “ hikmah kebijaksanaan “. Kemudian kata  philosophia masuk ke dalam bahasa Arab menjadi  Falsafah  yang  berarti  cara  berfikir menurut  logika dengan bebas,  sedalam –dalamnya  sampai  kepada  dasar  persoalan.
               Dari segi praktisnya berfilsafat berarti “ berfikir “,  filsafat berarti  “alam fikiran “  atau  “alam berfikir”. Namun  demikian  tidak  semua  berfikir berarti berfilsafat. Sidi Gazalba mengartikan “ berfilsafat “ berarti  mencari  kebenaran  untuk  kebenaran  tentang  segala  sesuatu  yang  dimasalahkan, Berfikir  secara radikal,  sistematis, dan universal. Dapatlah  dikatakan  bahwa  intisari  filsafat  ialah  berfikir secara  logika dengan bebas ( tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama )  dan  dengan  sedalam – dalamnya sehingga sampai  ke  dasar – dasar  persoalan.
             Agama yang berarti menguasai diri seorang dan  membuat  ia  tunduk  dan  patuh  kepada Ttuhan dengan  menjalankan  ajaran  agama.  Intisari  yang  terkandung  di dalamnya adalah  “ ikatan “.  Agama mengandung  arti ikatan – ikatan  yang  harus  dipegang  dan  dipatuhi  manusia. Karena mempunyai pengaruh dalam  aktivitas  manusia.  Dan  ikatan  itu,  mempunyai  kekuatan  gaib  yang  tak  dapat  ditangkap  dengan panca indra. Oleh karena itu agama diberi definisi – definisi sebagai berikut:
1. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia dan dipatuhi;
2. Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup  yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di  luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan – perbuatan manusia;
3. Pengakuan terhadap adanya kewajiban – kewajiban yang diyakini bersumber dari suatu kekuatan gaib dan      pemujaan terhadap kekuatan gaib yang  timbul  dari  perasaan  lemah  dan  takut  terhadap  kekuatan
     misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia;
4. Ajaran – ajaran yang  diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang rasul.
           Dengan demikian dapat kita pahami bahwa unsur yang ada pada agama ituadalah  adanya  kekuatan gaib, adanya keyakinan kebaikan di dunia ini dan hidup di akhirat bergantung dengan kekuatan gaib itu. Dari pengertian di atas dapat dipahami falsafat agama mengandung arti : “ berfikir tentang dasar – dasar agama menurut logika dan kebebasan berpikir”. Pemikiran yang dimaksud bisa mengambil dua bentuk.
a)    Membahas dasar – dasar agama secara analisis dan kritis, tanpa terikat pada ajaran – ajaran agama dan tanpa  ada  tujuan  untuk menyatakan kebenaran suatu agama.
b)    Membahas dasar – dasar agama secara analitis dan kritis, dengan maksud untuk menyatakan kebenaran ajaran  – ajaran agama, atau sekurang – kurangnya untuk menjelaskan bahwa apa yang diajarkan agama tidaklah mustahil dan tidak bertentangan dengan logika.
            Dasar – dasar  agama yang  dimaksudkan  meliput i wahyu,  pengiriman Rasul dan Nabi, Ketuhanan,  ruh manusia, keabadian,  soal hidup sesudah mati dan sebagainya. Akhir dari filsafat dan agama itu ialah “kebenaran”.  Filsafat mencari kebenaran dan agama membawa kebenaran. Namun demikian kebenaran agama tidak akan dirasakan kecuali oleh orang yang berakal. Oleh sebab itu kebenaran agama harus digali agar lebih jelas dengan menggunakan nalar filsafat.
                Filsafat bagi al-Kindi adalah  pengetahuan  tentang  yang  benar. Di sinilah terdapat persamaan filsafat dan agama. Tujuan agama ialah menerangkan apa yang benar  dan apa yang baik.demikian juga halnya dengan filsafat. Agama, di samping wahyu, juga menggunakan akal,dan filsafat juga menggunakan akal. Yang benar pertama bagi  al-Kindi  ialah  Tuhan dan  filsafat yang  paling  tinggi ialah filsafat  tentang  Tuhan. Bahkan al-Kindi berani mengatakan bagi orang yang menolak filsafat, sebagai  telah  mengingkari  kebenaran  dan menggolongkannya kepada orang  “kafir”, karena orang – orang tersebut telah jauh dari kebenaran, walaupun menganggap dirinya paling benar. Karena keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga alasan: (1) ilmu agama merupakan bagian dari filsafat, (2) wahyu yang diturunkan kepada nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian dan,(3) menurut ilmu, secara logika, diperintahkan dalam agama.
              Mengenai kosmologi, al-kindi berpendapat bahwa alam ini dijadikan tuhan dari tiada, allah tidak hanya menjadikan alam,tetapi juga mengendalikan dan mengaturnya,serta menjadikan sebagiannya menjadi sebab yang lain. Artinya, yang asal dan maha sempurna itu,adalah al-khalik sebagai pencipta makhluk, kemudian makhluk melahirkan makhluk dan seterusnya sambung – menyambung kebawah ketingkat terendah.baginya tuhan berada diatas hukum alam, tuhan menjelmakan alam itu mempunyai suatu sunnah (ketentuan) yang tetap. Sehingga yang satu menjadi sebab timbulnya yang lain.teori ini dikenal sebagai istilah emanasi merupakan pembahasan tentang asal usul sesuatu.\

FILSAFAT AL-NAFS  (JIWA) AL-KINDI
           Pada suatu kesempatan Tuhan berwacana: “Aku menciptakan manusia dari  lempung dan kemudian berkata kepada malaikat : “Aku ingin menciptakan manusia dari tanah”, dan kemudian ia berkata lagi : “Apabila Aku telah selesai membentuknya, barulah aku meniupkan ruh-Ku  kepadanya”. (QS.al-hijr:29). Apa yang dimaksudkan meniupkan tersebut ?. Apabila yang dimaksudkan adalah tiupan ( ruh ) yang meninggalkan Tuhan dan kemudian bersatu dangan manusia, maka intinya bahwa sangat dimungkinkan terjadinya pembelahan sifat tuhan. Dan ini tidak akan pernah terjadi : jawabannya bisa digambarkan dengan ilustrasi tentang matahari. Apabila matahari berkata, “Aku telah memberikan sinar pada bumi”,maka hal itu benar.
            Ruh atau jiwa itu ada di bawah perintah Tuhanmu. (Ar-ruhu min amr-i-rabbi). Oleh sebab itu, jiwa yang ada di bawah kata perintah,dan akal muncul sesudah melewati tiga tahap (Ahdiyah,Wahdat, dan Wahidiyyat) dan di dalam  pembatasan.  Jiwa  atau  ruh  ini  adalah Ruh-i-A`dzam ( Haqiqati Muhammad )  yang  merupakan tahap  wahdah  itu sendiri;dan tidak di bawah pembatasan.  Walau  jiwa  itu  pribadi  adalah  sebuah pembatasan,  namun  ia  bebas  dari  materi  dan  eksistensi, serta  dari  warna  dan  bentuk.  Ia  merupakan pengenal bagi diri dan bukan – diri, tetapi tidak dapat di-indra oleh pancaindra yang ada. Pembatas  bag i  ruh-i-A`dzam  adalah  jiwa – jiwa manusia, dan apbila  pembatas  semacam  itu  muncul  di dalam  jasad,  jadilah  ia ruh  binatang  atau  ruh  makhluk. Sifatnya sangat halus  dan  setiap bagian  terkecil  darinya  bertautan dengan partikel  jasad.  Jiwa inilah yang menerima ganjaran dan  siksaan, dan  ia  pul a yang merasakan kenikmatan jasmani.
               Menurut   al-Kindi jiwa merupakan substansi yang berasal dari Tuhan. Tidak tersusun, mempunyai arti penting, sempurna dan mulia. Substansi yang sangat halus, bertabiat mulia dan substansinya adalah sebagian dari substansi Allah. Cahaya dari cahayanya, seperti cahaya dari  matahari, juga bersifat  independen dari jasmani.  Jiwa selalu menentang kekuatan syahwat dan       kemarahan, serta selalu mengatur kedua kekuatan tersebut dalam batas – batasnya dan tidak dibenarkan melampaui kekuatan jiwa itu sendiri. Selain itu jiwa bersifat spritual, Ilahiah, terpisah dan berbeda dengan jisim. Jasad mempuyai sifat hawa nafsu dan amarah.
              Al-kindi memperbandingkan tentang keadaan jiwa. Jika kemuliaan jiwa diingkari dan tertarik dengan kesenangan – kesenangan  jasmani, al-Kindi membandingkan mereka dengan babi,  karena  kecakapan  apetitip menguasai mereka. Jika dorongan nafsu birahi yang sangat dominan,  dibandingkan oleh  al-Kindi dengan anjing. Sedangkan bagi mereka yang menjadikan akal sebagai  tuannya, dibandingkan al-Kindi dengan raja. Namun demikian, antara jiwa dan jisim, kendatipun berbeda tetapi saling berhubungan dan saling memberi bimbingan. Ini adalah agar hidup manusia itu serasi dan seimbang. Ketidakseimbangan  akan  terjadi  apabila salah satu dari unsur ini berkuasa untuk mencapai keseimbangan manusia memerlukan tuntunan yaitu iman dan wahyu. Jiwa manusia dapat mengenal hakikat – hakikat dan rahasia – rahasia alam; apabila jiwa itu bersih dari kekuatan – kekuatan  jasmaniahnya,  di samping selalu dalam  keadaan  berfikir  dan  mencari.  Setelah jiwa berpisah  dengan  alam  jasmani, maka akan  mengetahui  segala  bentuk  hakikat,  atau  jiwa  akan  berada di alam al-haq.

Al-kindi berpandapat bahwa jiwa mempunyai tiga daya, yaitu:
1. kekuatan nafsu
2. kekuatan moral
3. kekuatan akal

            Kekuatan akal merupakan kemudi dari dua kekuatan yang lain. Kekuatan apetatif atau al-qawiyyul haasah, yaitu kekuatan yang dapat mengenal segala yang dapat dirasakan dan yang nyata. Kekuatan ini tidak dapat membentuk suatu gambaran, kecuali yang diketahuinya. Seperti mata misalnya,tidak akan dapat mempersepsikan orang yang mempunyai tanduk atau sayap.
             Kekuatan rasa dimiliki juga oleh hewan, yang fungsinya hanya mengenal bentuk gambar yang parsial. Seperti gambar tentang warna, bentuk – bentuk gambar, rasa makan, suara, bau dan rasa sentuhan. Kekuatan irascible yaitu kekuatan marah yang dapat menggerakkan urat – urat untuk melakukan perbuatan pelanggaran atau kesalahan, dan termasuk didalam adalah kekuatan syahwat. Dan kekuatan cognitive faculty yaitu kekuatan yang dapat memberikan kepada pengetahuan tentang bentuk (persepsi) sesutu, tanpa wujud materi. Yakni, setelah hilangnya benda yang dipersepsikan dari pancaindra kita. Kekuatan jiwa ini berfungsi, baik pada saat manusia dalam keadaan sadar ataupun dalam keadaan tidak sadar (tidur). Keistimewaan dari kekuatan ini dapat membentuksebuah persebsi, seperti mempersepsikan sebuah gambar manusia dengan kepala singa. Kekuatan ini juga dapat menghapal atau menyimpan segala bentuk persepsi yang telah diterimanya.
            Al-kindi meyakini kekalnya jiwa. Menurutnya, tidak smeua jiwa pada saat meninggalnya jasmani menuju ketempatnya. Karena, ada sebagian jiwa manusia tidak berpisah dengan benda – benda (badan), seperti jiwa sesutu yang buruk akan menuju ke alam falaki, seperti ke bulan, dan akan menetap didalamnya dalam masa beberapa lama. Jika buruk itu telah membersihkan dirinya, maka akan meningkat ke alam yang lebih tinggi, seperti naik ke alam bintang yang lebih bersih. Setelah jiwa menghilangkan kotoran perasaan dan khayalan – khayalan buruknya, maka akan naik kealam akal. Dan pada saat itu alam akal sesuai dengan Nur Al-Bari, yaitu cahaya Ilahi. Kendatipun bagi al-Kindi jiwa adalah qadim namun kekekalannya berbeda dengan qadimnya Tuhan. Qadimnya jiwa karena diqadimkan oleh Tuhan.

PENUTUP
              Al-Kindi adalah nama yang dinisbatkan kepada  al-Kindah, seorang filsuf muslim pertama dan yang pertama kali memperkenalkan buah pikiran filosof – filosof Yunani serta memberikan analisa – analisa yang sophisticated.  Dia  sangat berjasa  menjadikan filsafat sebagai salah satu khazanah pengetahuan Islam setelah disesuaikan lebih dahulu dengan agama.
               Substansi jiwa menurutnya terpisah dari benda, akan tetapi terkait dengan benda dalam hubungannya dengan perbuatan – perbuatannya. Karena, jasmani memang menjadi alat baginya untuk menunaikan suatu perbuatan. Dan jiwa yang suci itulah yang akan kembali ke alam kebenaran.

Izzulfikri M. Ansorullah, Siswa Kelas IX Madrasah Tsanawiyah Negeri II Malang

No comments:

Post a Comment