Saturday, 2 June 2018

Sastra Piwulang, Konsep Etis Kepemimpinan Birokrasi dalam Usaha Bina Negara

                                              Oleh: K Ng H Agus Sunyoto

       Di tengah  kehidupan masyarakat Indonesia yang penuh letimpangan akibat  meluapnya konsep-konsep yang mengalir dari fenomena liberalisme yang menandai proses globalisasi, terjadi kecarut-marutan  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap kali orang membincang masalah pemerintahan – dari tingkat desa sampai ibukota – yang muncul dalam stigma pemikiran publik adalah keberadaan uang sebagai panglima, yang disebut money politic, yang seolah-olah telah menjadi bagian inheren dari demokrasi. Akibat fenomena yang aneh ini, orang seorang di antara anak bangsa Indonesia hanya mungkin bisa naik menjadi pemimpin di tingkat desa, kabupaten, propinsi, dan bahkan nasional jika didukung oleh kekuatan modal-kapital.
       Tidak bisa diingkari, bahwa akibat langsung dari fenomena ‘uang sebagai panglima’ adalah terjadinya  kejungkir-balikan nilai-nilai kepemimpinan yang selama ratusan tahun telah menjadi gagasan, konsep, pandangan, ide-ide, dan nilai-nilai luhur yang dianut bangsa Indonesia. Dampak buruk akibat kemenangan berbasis uang, terjadi fenomena menyedihkan di mana bermunculan  pemimpin-pemimpin bodoh, curang, tidak jujur, licik, serakah, tamak, bahkan kurang waras. Bahkan masyarakat pun pada gilirannya tidak lagi memiliki parameter untuk menetapkan kriteria pemimpin yang pantas memimpin mereka, karena citra pemimpin dewasa ini sudah identik dengan uang. Siapa yang memiliki modal-kapital uang – meski tidak waras dan sangat tolol – akan dipilih menjadi pemimpin oleh rakyat.

Thursday, 31 May 2018

Santri Cilik Hiking di Lembah Lawang

Santriwan-santriwati RA Roudlatul Arifin Hiking di Area Play Ground Lawang.

Setelah istirahat menikmati bekal makan dan minum, para santri cilik membersihkan sampah.

roudlatularifin.blogspot.com

Tuesday, 10 October 2017

Sekilas Buku Fatwa & Resolusi Jihad

                      Keresahan Oktober sampai lahir BPRI Pimpinan Bung Tomo

        Memasuki pekan kedua bulan Oktober 1945, kecurigaan para pemimpin KNID, BKR, badan perjuangan, dan pemuka pergerakan terhadap RAPWI semakin meningkat. Residen Soedirman sendiri yakin bahwa wakil-wakil Sekutu di kota Surabaya, yang sebagian besar orang Belanda, tidak bisa dipercaya. Para pimpinan PRI pun mendapati bahwa Pastoors, salah seorang anggota Komite RAPWI, pernah menjadi residen dalam sistem pemerintahan kolonial sebelum perang. Mereka kemudian menekan P.G. de Back untuk menyingkirkan Pastoors dari Komite RAPWI. 
          Residen Soedirman berani menuduh RAPWI sebagai pendahulu NICA karena tanggal 10 – 11 Oktober 1945,  ketika PRI menggeledah kantor RAPWI dan perumahan Eropa,  tersiar kabar bahwa ditemukan banyak bukti yang mencurigakan seperti rencana serangan, perangkat radio, peta sistem komunikasi, instruksi dari pemerintah NICA di Australia, dan sejumlah besar mata uang Jepang. Benda-benda itu menambah kecurigaan bahwa serangan Belanda terhadap wilayah Indonesia tinggal mmenunggu waktu  saja. Demikianlah, kecurigaan dan bahkan tuduhan bahwa RAPWI adalah pendahulu NICA semakin kuat, karena pengalaman menunjuk bahwa semenjak kabar kedatangan pasukan AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) ke Indonesia yang didahului datangnya kelompok penghubung pimpinan Mayor Geenhalgh yang tiba di Jakarta 8 September 1945 yang mempersiapkan markas AFNEI di Jakarta, terbukti diboncengi Belanda, karena seiring merapatnya kapal perang Inggris HMS Cumberland di bawah pimpinan Laksamana Muda Peterson pada 29 September 1945, merapat pula kapal perang Belanda Tromp. Begitulah, bersama rombongan AFNEI telah turun ke ibukota aparat NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang diam-diam mempersenjatai bekas KNIL yang baru lepas dari tawanan Jepang.

Monday, 11 September 2017

Mengingat Terror Abal-abal 11 September 2001:

        Dalam sebuah ulasan prediktif tentang perubahan geopolitis pada artikel berjudul The Great Game of Caspian Sea Oil tahun 1996, Andre Gunther Frank menguraikan bahwa cadangan minyak di Timur Tengah dalam kurun 30 tahun mendatang akan habis. Karena itu, eksplorasi minyak akan dialihkan ke negara-negara di sekitar Laut Caspia, yang dalam penelitian dan eksplorasi merupakan area yang mengandung cadangan minyak bumi terbesar. 
        Pengusaha-pengusaha minyak -- terutama Rockefeller group -- berusaha menjalin hubungan dengan negara-negara sekitar Laut Caspia seperti Kazakhtan, Uzbekistan, Azerbaijan, Turkmenistan untuk berinvestasi. Problem utama dari usaha investasi di bidang pertambangan minyak itu adalah fakta bahwa negara-negara sekitar Laut Caspia yang bekas bagian Uni Soviet itu sebagian  sudah menjalin hubungan sosial-ekonomi-politik dengan Rusia dan Cina. Azerbaijan, Uzbekistan dan Turkmenistan yang berhasil didekati adalah negara-negara yang tidak memiliki jalur laut yang bisa mengalirkan minyak keluar dari kawasan Asia Tengah itu.