Sunday, 12 February 2017

Amalan-amalan Yang Bisa Membuka Pintu Rejeki

                               Oleh: Ustadz M. Ridwan Qayyum Sa’id

    Allah Swt berfirman “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah” (QS. Al-Baqarah:172). Rasulullah Saw berpesan : "Malaikat Jibril membisikkan di dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rejekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah (rejeki) dengan cara yang baik. Dan hendaklah tertundanya (lambatnya datang) rejeki tidak mendorong kalian untuk mencarinya dengan kemaksiatan kepada Allah, karena sesungguhnya keridlaan di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya” (HR. Abu Nuaim Baihaqi dan Bazar). Rasulullah Saw juga bersabda : “Sesungguhnya rejeki akan mengejar seorang hamba seperti ajal mengejarnya” (HR. Ibnu Hibban).
      Allah Swt berfirman “Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rejekinya”. (QS. Hud:11) 

Monday, 23 January 2017

ASTADASA KOTTAMANING PRABHU: Konsep Kepemimpinan Jawa Kuno

                                            Oleh : K Ng H Agus Sunyoto

          Di tengah kecarut-marutan kehidupan masyarakat Indonesia akibat melimpah-ruahnya konsep-konsep yang mengalir dari fenomena liberalism telah menimbulkan kemandegan dan kebekuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap kali orang membincang soal pemerintahan – dari tingkat desa sampai ibukota – yang muncul dalam stigma pemikiran adalah keberadaan uang sebagai panglima, yang disebut money politic. Akibat fenomena itu, orang seorang di antara anak bangsa ini hanya mungkin menjadi pemimpin di tingkat desa, kabupaten, propinsi, dan bahkan nasional jika didukung kekuatan uang.
Akibat langsung dari fenomena ‘uang sebagai panglima’ adalah kejungkir-balikan nilai-nilai kepemimpinan yang selama ratusan tahun telah menjadi gagasan, konsep, pandangan, ide-ide, dan nilai-nilai luhur yang dianut bangsa Indonesia. Akibat kemenangan berbasis uang, lahir pemimpin-pemimpin bodoh, curang, tidak jujur, licik, bahkan kurang waras. Masyarakat pun tidak lagi memiliki parameter untuk menetapkan kriteria pemimpin yang pantas memimpin mereka, karena citra pemimpin dewasa ini sudah identik dengan uang. Siapa yang memiliki uang – meski tidak waras dan sangat tolol – akan dipilih menjadi pemimpin oleh rakyat.

Tuesday, 17 January 2017

Memaknai Naskah Kuno AMANAT GALUNGGUNG

Oleh: Hasanuddin & Ramlan Maulana
           Menggali kembali kearifan lokal berupa tradisi dan pengetahuan masa lalu dari peradaban Nusantara seolah membawa generasi masa kini bangsa ini pada “lorong kegelapan”. Gelap, karena literarur dan sumber sejarah yang memperkenalkan hal ihwal peradaban masa silam tersebut amat terbatas dan atau pula hanya beredar di kalangan terbatas. Pendidikan modern sebagai “warisan resmi”dari sejarah panjang kolonialisme telah menutup tabir kekayaan tradisi yang terkandung di bumi Nusantara. Demikian pula kebijakan Negara yang lebih dari tiga dasawarsa “anti tradisi” telah memutus mata rantai kesadaran (kearifan nilai) sejarah dari pangkuannya. Sehingga tak ayal generasi masa kini menjadi asing dan buta akan (sejarah) dan nilai-nilai tradisinya.
         Masa lalu dianggap sebagai kisah kuno dan beban yang tidak memiliki relevansi dengan dunia masa kini. Berbicara kearifan lokal menjadi asing dari medan sejarahnya sendiri. dengan nada sinis, Budayawan Jakob Soemarjo menuturkan, kearifan lokal lantas menjadi liyan bagi mereka. Kearifan lokal dituduh sebagai takhayul dan mitos. Hidup masa kini harus serba logos Aristotelian. Akhirnya cara pandang “kebenaran tunggal” yang dipakai. Mau maju atau mau mundur? Mau menjadi masyarakat modern atau primitif? Percaya pada mitos atau logos? Kebenaran itu hanya satu yakni modernitas itu. Di luar itu, atau yang berseberangan dengan itu, adalah tidak benar. Kearifan lokal harus ditinggalkan kalau mau maju dan modern. 

Tuesday, 16 February 2016

Situs Biting, Jejak Kebesaran Kerajaan Islam Lumajang

Situs Kerajaan Lamajang di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kec.Sukadana, Kab.Lumajang sudah lama diketahui masyarakat sekitar. Bahkan makam Raja Lumajang Arya Wangbang Menak Koncar dikeramatkan oleh penduduk sekitar beserta putra wayah Raja-raja Lumajang. Namun sebagai obyek penelitian, Situs Biting baru dibicarakan oleh J.Magemen pada tahun 1861. Itu  artinya,  tidak benar anggapan yang mengatakan bahwa  J.Magemen adalah penemu situs Biting, melainkan J.Magemen adalah orang pertama yang meneliti situs Biting..
Pada tahun 1920 A. Muhlenfeld seorang Belanda, diketahui  sebagai orang pertama yang memulai penelitian dengan penggalian dan pendokumentasian Situs Biting. Tidak ada yang mengetahui, kenapa hasil penelitian J.Magemen dan A. Muhlenfeld tidak dipublikasi secara besar-besaran seperti hasil penemuan dalam penelitian situs-situs lain seperti candi Hindu, candi Buddha, reruntuhan keratin dengan umpak-umpak, pintu gerbang, candi patirtaan, prasasti.

Monday, 15 February 2016

Lumajang, Kerajaan Islam Tertua di Jawa

Dalam pelajaran sejarah di sekolah kita didoktrin untuk yakin bahwa kerajaan lslam tertua di Jawa adalah Demak, dengan Raden Patah sebagai raja pertama.
Tidak cukup itu, kita didoktrin untuk yakin bhw Raden Patah adalah anak durhaka karena menyerang kerajaan ayah kandungnya yg beda agama. Sejarah dgn latar konflik inilah yg secara  sistematis diwariskan kolonial Belanda kepada anak2 bangsa lndonesia melalui sekolah.
Bertolak dari sisa2 artefak dan ideofak yg dapat dilacak, kita temukan fakta bhw kerajaan lslam yg awal di Jawa bukanlah Demak, melainkan Lumajang yg menunjuk kurun waktu abad 12 awal, yaitu saat Singasari di bawah Sri Kertanegara.

Sebagaimana disebut dalam prasasti Mula Malurung bhw kerajaan Lumajang yg merupakan bagian dari Singasari dirajai oleh Nararya Kirana, puteri Prabu Seminingrat Wisynuwarddhana. Saudara yg lain adalah Chakrawarddhana yg dirajakan di Madura. Sebagai putera mahkota adalah Kertanegara.